KlinikStrokeNusantara.com

KLINIK STROKE NUSANTARA

Stroke bisa menyerang Anda, saya atau siapa saja secara mendadak, tanpa tanda-tanda atau gejala apa pun ! Waspadalah ! Berhati-hatilah !

Bilamana orang yang Anda cintai terserang stroke, bawalah ke rumah sakit dan minta paksa dirawat di ruang gawat darurat (UGD) atau Intensive Care Unit (ICU). Walaupun, pihak rumah sakit mengatakan cukup dirawat di ruang biasa. Paksa, tetap minta di ruang gawat darurat, agar segera ditangani secara intensif, sehingga kerusakan atau kelumpuhan yang terjadi bisa benar-benar minimal. (Karena banyak rumah sakit tidak tahu harus berbuat apa menghadapi pasien yang terkena stroke, jangan heran, kalau pasien hanya dibiarkan saja).

Setelah dirawat di UGD dan kondisinya stabil, segera hubungi Sinshe Hans di telepon (021) 5637475, 5637476 handphone/whatsapp 0819 3261 8088, 0813 1261 3636. Karena banyak pasien stroke bisa pulih lebih cepat setelah diterapi oleh kami, dibandingkan dengan terus dirawat di rumah sakit.

Pasien-pasien stroke yang dirawat di Klinik Stroke Nusantara, merasakan banyak kemajuan setiap selesai sekali diterapi. Diperlukan 3 sampai 8 kali terapi. Selama ini, hanya 1 (satu) pasien Stroke, seorang pendeta yang lumpuh total (2 kaki dan dua tangan nggak bisa digerakkan setelah operasi) diterapi sampai 9 kali.

Selain Klinik Stroke Nusantara, kami juga menjual dan menyewakan ranjang rumah sakit: ranjang-rumah-sakit.com; kursi roda: kursi-roda.com, sewakursiroda.com, kursirodabekas.com; tabung oksigen: tabungoksigen.net, sewatabungoksigen.com, tabungoksigenbekas.com; regulator oksigen: regulator-oksigen.com; selang ngt silicon: selangngt.com, selang oksigen: selang-oksigen.com; sarung tangan karet: sarungtangankaret.com; alat bantu jalan: alatbantujalan.com; perawat orang sakit: yayasanperawatindonesia.com; kasur decubitus: sewakasurdecubitus.com; suction pump: sewasuctionpump.com; selang NGT: selangNGT.com; urine bag: urine-bag.com dan alat kesehatan lainnya.

Untuk konsultasi & terapi, silakan hubungi
Sinshe Hans
di telepon (021) 5637475, 5637476 handphone/whatsapp 0819 3261 8088, dan 0813 1261 3636. (... Tarif jasa per sekali datang terapi ke rumah atau rumah sakit Rp. 400.000,- untuk wilayah Jakarta dan
Rp 450.000 untuk Tangerang, Depok, dan Bekasi)

Friday, November 17, 2017

Polusi dan Umur

POLUSI udara dari beragam sumber  seperti asap memasak di India, asap kendaraan di AS, dan penggunaan pestisida di Rusia diklaim telah menewaskan 3,3 juta jiwa di seluruh dunia dalam setiap tahunnya.

Menurut peneliti dari Institut Max Plack untuk kimia di Jerman, sebagian besar korban, hampir 75%, meninggal dunia karena stroke dan serangan jantung yang dipicu akibat menghirup udara kotor dalam waktu cukup lama. Sisannya meninggal karena sakit pernapasan dan kanker paru-paru.

Peneliti menggunakan model yang mampu menggabungkan pengukuran kualitas udara, populasi, statistik kesehatan, dan risiko polusi terhadap kesehatan.

Di Rusia dan AS, pertanian menyumbang sebagian besar polusi dengan partikel di bawah 2,5 mikron sehingga mudah menembus paru-paru. Penelitian yang dipublikasikan Journal of Nature itu memprediksi jumlah kematian akibat polusi udara di luar ruangan akan berlipat ganda menjadi 6,6 juta jiwa setiap tahunnya pada 2050. (AFP/Fox/X-5)

Tuesday, August 29, 2017

Stroke Usia Muda

Pertanyaan Tika di Jakarta

Assalamualaikum wr wb.
Kakak saya, 42 tahun, seminggu yang lalu tiba-tiba merasa pusing, lalu muntah, dan kakinya lemas. Kami kemudian membawanya ke rumah sakit.  Ternyata tensinya sangat tinggi 190 per 120 sehingga ia dianjurkan untuk dirawat. Awalnya dokter mengatakan bahwa kakak saya tidak mengalami stroke karena tidak ada kelumpuhan ataupun kelemahan, tindakan yang perlu segera dilakukan adalah menurunkan tensinya dengan pemberian obat.

Beberapa jam kemudian, kakak saya mengeluh kesemutan di tangan kiri. Dokter lalu menganjurkan CT Scan yang ternyata hasilnya ditemukan perdarahan di otak. Dokter menyatakan ada stroke, jenis stroke perdarahan. Akhirnya diputuskan untuk dilakukan operasi segera. Saat akan dioperasi, ia masih sadar, dokter mengatakan, kaki dan  tangan kirinya sudah  mengalami kelemahan  yang derajatnya ringan.

Pertanyaan saya, mengapa keadaan kakak saya  bisa berkembang menjadi stroke? Apakah tidak bisa diketahui lebih cepat sebelum perdarahan menjadi banyak? Kakak saya sebelumnya tidak pernah diketahui menderita tekanan darah tinggi, hanya memang dia gemuk. Setelah di rumah sakit, baru diketahui kolesterolnya juga tinggi, gula darah normal. Dokter, sejak usia berapa kita harus mulai rutin memeriksa tekanan darah? Sekarang alhamdulillah tekanan  darah masih normal. Terus terang, saya dan saudara-saudara saya yang lain menjadi khawatir karena takut bisa  mengalami sakit yang mendadak seperti yang kakak saya alami. Apalagi, ayah saya juga beberapa tahun yang lalu juga mengalami stroke perdarahan di otak, beliau sakit darah tinggi sejak usia muda dan di usia tuanya mulai timbul kencing manis.

Jawaban Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM

Mbak Tika yang baik,
Waalaikumsalam wr wb.
Stroke adalah penyakit yang disebabkan pecahnya pembuluh darah atau tersumbanya pembuluh darah yang ada di otak sehingga jaringan otak kekurangan oksigen. Data dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2007) menunjukkan bahwa stroke menjadi penyebab kematian tertinggi di wilayah perkotaan di Indonesia. Jumlahnya mencapai 15,9 persen dari proporsi penyebab kematian di Indonesia. Di pedesaan sedikit berbeda, tuberkulosis menjadi penyebab kematian tertinggi dengan proporsi 12,3 persen, disusul stroke di peringkat dua dengan proporsi 11,5 persen. Di negara lain, Amerika, misalnya setiap tahun tercatat sekitar 600 ribu orang mengalami stroke, dengan angka kematian sebesar 158 ribu orang.

Walaupun frekuensinya lebih jarang, stroke memang dapat  dialami orang-orang yang belum berumur lanjut. Stroke bahkan bisa terjadi pada usia belasan tahun, biasanya disebabkan adanya penyakit bawaan yang meningkatkan risiko terjadinya perdarahan atau sumbatan pembuluh darah di otak.

Setiap orang dapat terkena stroke, tetapi risikonya akan lebih tinggi bila memiliki satu atau lebih faktor risiko. Faktor risiko yang dapat dikontrol adalah hipertensi atau darah tinggi, kencing manis, fibrilasi atrial (salah satu bentuk kelainan irama denyut jantung), kegemukan, merokok, kolesterol tinggi, minum alkohol berlebihan, dan jarang berolahraga. Sedangkan faktor yang tidak dapat dikontrol dan tidak dapat dimodifikasi adalah usia, jenis kelamin laki-laki, riwayat keluarga, dan kelainan bawaan. Dari surat Anda terlihat bahwa kakak memiliki beberapa faktor risiko, yaitu darah tinggi, gemuk, kolesterol tinggi, dan adanya riwayat keluarga.

Gejala dan tanda penyakit  stroke tidak berbeda antara usia tua dan usia muda. Gejalanya sangat tergantung dari area otak mana yang mengalami perdarahan atau sumbatan pembuluh darah. Gejala stroke yang dapat dikenali dan harus segera dibawa ke rumah sakit adalah: (a) Tiba-tiba merasa baal/kelemahan/lumpuh di wajah, lengan, atau tungkai, terutama jika terjadi di satu sisi tubuh, (b) Mendadak kesulitan berbicara, sukar memahami pembicaraan orang, atau seperti kebingungan, (c) Kesulitan melihat pada satu atau kedua mata yang muncul mendadak, (d) Tiba-tiba sukar berjalan, linglung, atau kehilangan keseimbangan dan koordinasi tubuh gerakan tubuh, (e) Mendadak sakit kepala hebat, tanpa penyebab yang jelas.

Bisa jadi tidak semua tanda tersebut muncul, tergantung dari daerah otak mana yang terkena dan seberapa luas kerusakannya. Untuk diketahui bahwa otak memiliki area-area yang masing-masing memiliki fungsi khusus.

Stroke di usia kurang dari 45 tahun, seringkali tidak menjadi penyakit yang pertama kali dipikirkan dokter di ruang gawat darurat, hal ini karena frekuensinya yang jarang. Pada kasus kakak Anda, gejala awalnya memang masih dapat disebabkan oleh penyakit selain stroke. Untuk itu, mengenali tanda-tanda awal penyakit stroke  memang sangat penting. CT Scan yang dilakukan segera setelah kakak Anda mengeluh kesemutan sangatlah baik, untuk segera mendeteksi adanya perdarahan atau sumbatan pembuluh darah di otak. Penanganan stroke memang harus berpacu dengan waktu karena semakin lama, area yang terkena akan makin luas sehingga akibatnya bisa mengancam nyawa atau mengalami gejala sisa yang berat (kelumpuhan, sulit berbicara, dan lain-lain).

Darah tinggi adalah penyebab utama stroke. Misalnya, banyak orang yang mempunyai tekanan darah tinggi tidak menyadarinya, baik  di Indonesia, maupun banyak negara maju. Pengecekan tekanan darah harus dilakukan minimal sekali setahun. Karena Mbak Tika mempunyai  kakak yang stroke usia muda, sebaiknya periksa tekanan darah lebih sering dan mulailah dari sekarang.

Jika ditemukan darah tinggi, ubahlah diet Anda menjadi rendah garam dan lemak. Jika perlu minum obat, minumlah secara teratur, jangan malas minum obat karena merasa bosan. Selain itu, waspadalah dengan faktor-faktor risiko yang lain. Untuk faktor risiko yang dapat dikontrol, Anda harus melakukan perubahan pola hidup. Untuk Anda atau saudara kandung yang lain, walaupun mungkin masih berusia 20-an atau 30-an tahun,  perlu periksa laboratorium secara berkala, sekali setahun kadar gula darah dan lemak (kolesterol, trigliserida) Jangan minum alkohol, hindari mengonsumsi makanan yang banyak  mengandung lemak. Kita perlu makan buah dan sayur masing-masing tiga kali sehari, rutin berolahraga sehari setengah jam atau berjalan cepat, dan jaga berat badan agar tak berlebihan.

Adapun faktor risiko yang tidak dapat dikontrol, seperti usia yang terus meningkat dan riwayat keluarga, memang tidak dapat Anda ubah. Namun, dengan mengontrol faktor-faktor risiko lain, kemungkinan Mbak Tika mengalami stroke akan menurun.   

Sunday, August 13, 2017

OBAT BERBENTUK MUSIK

Musik bukan hanya nikmat didengarkan, melainkan juga berpengaruh pada kesehatan dan proses penyembuhan.

Di satu sudut sebuah ruang klinik, berjejer dua kulintang dan sederet angklung. Di seberangnya terdapat sebuah organ dan satu set angklung lainnya. Di tengah muka ruangan, di depan kursi-kursi, terdapat papan tulis berisi deretan not angka dan teks, dengan judul Bengawan Solo.

Ruangan di sudut kanan klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel, Apotek Trio Sada, kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat, ini digunakan ruangan terapi dengan musik angklung. Pesertanya penderita stroke. Terlihat mengisi deretan kursi, Rabu (4/11) pagi adalah orang-orang dengan gerak tubuh dan bicara tidak lancar.

Setiap peserta menerima satu angklung. Tiap angklung memiliki angka yang sesuai dengan angka not yang ada di papan tulis. Dengan sungguh-sungguh pria dan wanita yang kebanyakan sudah baya memainkan angklung  bergiliran. Mereka juga tampak menikmatinya dengan menggoyangkan badan sambil bermain.

“Saya mulai ikut sejak 2003, yang paling terasa ya hati jadi tenteram, ndak marah-marah. Orang stroke tidak boleh marah, karena bisa kena lagi nanti,” kata Winarto, 66, salah satu peserta. Pria dengan langkah agak kaku ini sekaligus Ketua Klub Stroke Karmel, perkumpulan penderita stroke yang mengikuti terapi di Karmel Stroke & Revitalization Center yang ada di klinik tersebut. Selain merasa lebih senang, Winarto mengatakan bermain angklung memperbaiki koordinasi gerak dan bicaranya.

Drum untuk autisme
Jika di klinik itu para penderita stroke bermain angklung, di Gilang Ramadhan Studio Drummer (GRSD) anak-anak hiperaktif dan penderita autisme bermain drum. “Orang tua sendiri yang datang  ke sini atas saran dokter, mereka bilang main musik bagus untuk anak pengidap autisme. Dan saya sendiri melihat, memang setelah main drum komunikasi dan gerak mereka lebih bagus,” kata Gilang yang ditemui di studionya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (3/11).

Di GRSD, anak-anak dengan kondisi khusus itu masuk kelas paling awal, yakni pembentukan feel bermain drum. Di sini anak-anak bermain dengan drum yang terbuat  dari bantalan-bantalan busa sehingga tidak mengeluarkan suara. Musik drumnya berupa musik instruksi yang muncul pada televisi di depan kelas. Anak-anak mengikuti instruksi itu.

“Saya melihat latihan drum melatih konsentrasi mereka. Istilahnya mereka diterapi tapi dalam suasana santai sambil mengikuti musik,” kata Gilang.

Tidak seperti anak-anak yang melanjutkan ke level lebih tinggi setelah tiga bulan, anak dengan kondisi hiperaktif dan penderita autisme terus berada pada level awal ini. “Di level selanjutnya sudah ada pelajaran baca not. Sedangkan untuk anak-anak ini  kan tujuannya melatih gerak dan koordinasi saja, jadi kalau naik level nanti stres,” tambah Gilang.

Pendamping obat
Dokter spesialis saraf dr Hermawan Suryadi  SpS mengatakan  terapi musik untuk  penyakit stroke, seperti hiburan karaoke yang dimulai di Jepang pada awalnya merupakan terapi yang diciptakan seorang dokter untuk penderita stroke.

“Di Eropa sudah ada standarnya sendiri dan di Australia ada lembaga yang khusus mengembangkannya, karena sudah terbukti terapi musik bisa membantu penyembuhan penyakit saraf, stroke, demensia, autisme, dan hiperaktif,” kata dokter yang memimpin Sekolah Stroke dan Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel ini.

Hermawan menjelaskan peran terapi musik ini adalah sebagai pendamping terapi obat. Jadi obat tetap jalan dan terapi musik ini sebagai pendampingnya ,” kata dia.

Masih menurutnya, terutama bermusik, tekanan emosi dapat berkurang, sehingga pada akhirnya penderita merasa lebih tenang, hilang rasa takut, percaya diri dan tidak sulit tidur. Kejiwaan yang tenang itu memengaruhi keberhasilan terapi pengobatan.

Selain kejiwaan, terapi musik dengan memainkan alat dan bernyanyi mengaktifkan bagian-bagian otak. Dengan  bernyanyi, sistem pusat bahasa di otak kiri akan teraktifkan, dan dengan mengikuti irama musik, otak bagian kanan akan teraktifkan.

Terapi musik yang dilakukan dengan cara memegang alat  akan melatih koordinasi dan gerak.“ Terapi ini juga membantu konsentrasi karena orang harus mengikuti nada dan gilirannya,” kata Hermawan.
Dengan kata lain, terapi musik merupakan terapi saraf dan motorik yang dikemas menyenangkan. (M9)

Wednesday, August 9, 2017

JUS JERUK CEGAH STROKE

SEBUAH  studi baru yang dilaporkan Daily Mail menunjukkan mengosumsi jeruk dapat membantu menurunkan risiko stroke. Sebabnya senyawa hesperindin yang terkandung dalam jeruk mampu meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk otak.

Tim ilmuwan menggunakan mesin doppler fluximeter dengan sinar laser untuk mengukur aliran darah melalui kulit.

Larutan hesperindin yang setara dengan dua cangkir jus jeruk, peneliti menjelaskan, mampu menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Peneliti menemukan aliran darah partisipan yang mengonsumsi jus jeruk segar ternyata lebih baik sehingga efek stroke berkurang.

Pada kasus lain, kelompok perempuan yang sensitif terhadap temperatur dingin diberi larutan fitonutrien jeruk. Hasilnya tangan mereka tidak sedingin kelompok yang minum plasebo. (Daily Mail/Hym/X-8)  

Monday, July 31, 2017

Waspadai Stroke di Usia 30 Tahun

Pasien stroke ibarat berpacu dengan waktu. Menunda penanganan sama dengan mengambil risiko untuk mengorbankan fungsi otak. Jangan sampai terlambat.

Stroke masih menjadi momok yang mengintai penduduk usia lanjut. Data tahun 2010 di Amerika Serikat menyebutkan, stroke berada di urutan tiga teratas sebagai penyebab kematian setelah penyakit jantung dan kanker, dengan angka kasus mencapai tujuh ratus ribu per tahun.

Di Indonesia data Riskesdas 2013 menyebutkan prevalensi stroke mencapai 12,1 per seribu orang. Diperkirakan, angka ini akan terus meningkat sejalan dengan peningkatn faktor risikonya.

Dr Nizmah SpS., spesialis saraf dari RS Bunda Jakarta, menyebutkan bahwa penyakit ini pun masih menjadi penyebab kecacatan nomor satu di dunia. “Tanpa  pengobatan, 62 persen pasien stroke bisa mengalami kecacatan, di antaranya gangguan berjalan, gangguan bicara, gangguan penglihatan, adanya perubahan ekspresi wajah, dan sebagainya.”

Kecacatan ini, tambah Nizmah berkaitan erat dengan hilangnya kemandirian dan menurunnya kualitas hidup pasien. “Ini pun erat kaitannya dengan stres secara emosional,” pungkasnya saat menjadi pembicara di seminar “Stroke Bukan Akhir Segalanya” yang diadakan di RS Bunda Jakarta.

3 Jenis Serangan
Stroke muncul bila ada hambatan pada aliran darah ke otak. “Ini sebenarnya termasuk penyakit orang tua. Namun sekarang, di umur 25 tahun saja seseorang sudah bisa terkena stroke. Bahkan angka pasien dengan stroke di usia 30 tahun meningkat. Penyebabnya, tak lain adalah gaya hidup yang berubah,” terang dr. Ibnu Benhadi, Sp.BS(k), spesialis bedah saraf dari RS Bunda. Ia pun mengungkapkan, dari tujuh orang yang meninggal, satu di antaranya disebabkan oleh stroke.

“Aliran darah menjadi penentunya. Pasalnya, ia adalah jalan utama sekaligus pemasok utama oksigen dan saripati yang akan dipompa oleh jantung, lalu dialirkan ke otak. Jika ada sumbatan aliran darah ke otak lebih sedikit dari 15cc/100gr/menit, maka akan menyebabkan kematian sel. Matinya sel-sel di area otak itulah yang menyebabkan stroke,” terang Ibnu.

Padahal, otak berfungsi untuk mengatur semua fungsi tubuh, mulai dari fungsi motorik, mengecap rasa, berpikir, dan bertingkah laku. Ibnu pun menyebutkan, ada tiga jenis stroke yang umum 
mengenai pasien.

      Stroke Iskemik. Stroke iskemik alias stroke yang disebabkan sumbatan merupakan kasus terbanyak pada pasien stroke. “Sebanyak 80 persen kasus stroke disebabkan oleh adanya sumbatan. Ini bisa diberikan obat pengecer darah, tapi pemberiannya hanya efektif di 3 jam pertama setelah serangan,” jelas Ibnu.
       
        Stroke Hemoragik. Stroke yang disebabkan adanya perdarahan akibat pembuluh darah di otak pecah. “Kasus stroke yang demikian dialami oleh 10-15 persen pasien. Apabila sudah ada perdarahan, maka bisa dilakukan pembedahan.”

     Mini Stroke. Jenis yang ketiga adalah mini stroke atau serangan otak sepintas. Mini  stroke juga biasa dikenal dengan istilah TIA (Transient Ischemik Attack). “Jenis stroke ini dialami oleh 5 persen pasien stroke. Namun perlu diketahui, sebanyak 30 persen stroke didahului dengan mini stroke. Biasanya, serangan TIA itu ini bisa  membaik dengan sendirinya dalam waktu semalam, Tapi tetap perlu ditangani,” tambah Ibnu.

Penelitian yang akurat tentang penyebab terjadinya stroke, dapat menentukan pengobatan apa yang sebaiknya ditempuh. “Lebih lanjut, ini dapat sangat menentukan keberhasilan terapi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Penanganan Cepat
Penanganan yang cepat dan tepat di fase akut akan sangat menentukan kondisi pasien selanjutnya. Dalam manajemen stroke akut, dikenal istilah golden period yang merujuk pada batas waktu pasien harus mendapat penanganan.

“Pasien stroke rata-rata telah mendapat penanganan karena memang di awal-awal tidak ada rasa nyeri. Gejalanya ringan, sehingga mungkin sekali pasien tidak menyadari. Pasien baru memeriksakan jika gejalanya sudah berlanjut,” tutur Nizmah.

Meski demikian, ujar dr. Heri Aminuddin, MD spesialis bedah saraf dari RS Bunda, saat pasien sudah terkena stroke, bukan berarti tak ada lagi harapan. “Terpenting, ia mendapat penanganan yang cepat dan tepat. Golden period pada pasien stroke adalah 6-8 jam . Itu sudah harus ditangani. Tapi yang terpenting dan sangat berpengaruh justru di jam-jam pertama, “terangnya.

Sementara itu, untuk melakukan penanganan dengan cepat dan tepat, tutur Nizmah, diperlukan pengetahuan untuk mengenali tanda-tanda awal stroke. “Cara-cara mengenalinya dapat disingkat menjadi FAST,” pungkasnya.

FAST adalah singkatan dari Face dropping, Arm weakness, dan Speech difficulty yang dapat dijadikan indikasi pasien stroke, serta Time yang artinya segera manfaatkan waktu untuk membawa pasien  ke rumah sakit jika tanda-tandanya mengindikasikan ia terkena stroke.

“Dalam stroke, kehilangan waktu sama dengan kehilangan otak. Jika aliran darah berhenti dan suplai darah yang berisi oksigen dan glukosa ke otak berhenti lebih dari lima menit, sel-sel itu bisa mati,” tambah Nizmah.

Namun meski daerah intinya sudah mati, ia menambahkan, masih ada daerah di sekitanya, yaitu penumbra, yang akan diselamatkan. “Daerah penumbra itu bisa dibilang masih pingsan, belum mati. Pasien yang datang karena stroke itu, kan, rata-rata daerah sel intinya sudah mati. Jadi yang diselamatkan adalah sel-sel yang pingsan di penumbra itu. Jangan sampai, daerah sekitanya ikut mati.”

Tekanan Darah Tinggi
Sebanyak 70 persen penderita stroke, ternyata juga mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, Nizmah menuturkan, stroke dapat dikendalikan salah satunya dengan mengontrol tekanan darah.
“Cara lain adalah dengan menekan risiko diabetes, obesitas, dan kolesterol tinggi. Namun paling pentinga adalah dengan mengurangi rokok,” ujarnya.

Dituturkan Nizmah, rokok sebenarnya bukan hanya musuh besar  paru-paru, karena pengaruh rokok terhadap kesehatan aliran darah pun sangat besar.

“Rokok, kan, sering kali disebut sebagai pemicu kanker. Padahal, gangguan terbesar, akibat rokok adalah pembuluh darah. Racun-racun dalam rokok bisa menyumbat pembuluh darah dan pada akhirnya menurunkan fungsi jantung dan otak,” ujarnya. ANNELIS BRILIAN 

Saturday, July 29, 2017

Pulih dari Stroke dengan Bernyanyi. Sekarang Aku Bisa Bernyanyi 12 Lagu

Meski usianya tak lagi muda, Karny Otaya (63) sangat aktif di berbagai kegiatan. Serangan stroke yang datang memaksanya hanya bisa terbaring di tempat tidur. Semangat dan rutin bernyanyi akhirnya membuatnya kembali pulih.

Sehari-hari, aku mengajar di beberapa sekolah di Bandung. Di sela-sela pekerjaanku, terutama di akhir pekan, aku sering diminta menjadi Master of Ceremony (MC) untuk acara pernikahan. Biasanya, seminggu sekali aku jadi MC bahkan sampai ke luar kota. Kebetulan, ada beberapa perias pengantin yang sering mengajakku jadi MC ketika mereka mendapat job. Aku juga diminta tampil bernyanyi sambil memainkan kibor, mulai dari acara ulang tahun, arisan, sampai pergantian tahun di malam tahun baru.

Belum lagi, aku aktif bernyanyi di beberapa komunitas, termasuk komunitas Music Lovers (Mulo) yang didirikan Ari, mantan muridku di SMP tempatku mengajar dulu. Bahkan, 4-5 kali aku pernah ikut bermain sinetron yang ditayangkan TVRI Bandung.

Hari-hariku selalu ceria. Seolah tak ada lelah. Juga, tak pernah habis bahan obrolan karena aku memang cerewet. Pendek kata, hidupku sangat berwarna dan aku aktif ke mana-mana.

Suamiku dipanggil Tuhan lebih dulu, tahun 2009. Waktu itu aku sedang mengemsi untuk  acara pernikahan di Taman Mini Indonesia Indah. Tapi aku berhasil bangkit  dan tak larut dalam kesedihan ditinggal suami tercinta.

Belajar Berjalan
Tapi, itu dulu, sebelum aku terkena serangan stroke Desember 2011 silam. Aku masih ingat betul, peristiwa itu terjadi sehari sebelum jadwal keberangkatanku ke Gorontalo, Sulawesi, untuk menjadi MC di sebuah pernikahan di sana. Tiket pesawat sudah di tangan.

Namun, pada hari itu, pagi-pagi ketika hendak mencuci kerudung di kamar mandi, mendadak kepalaku sangat pusing. Aku keluar dari kamar mandi dan duduk di kursi. Segera kubangunkan anak-anakku dan  mereka pun langsung membawaku ke RS Borromeus dengan mobil tua kami.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Tekanan  darahku yang rendah dan biasanya di angka 100, saat itu melonjak jadi 175. Menurut dokter, kemungkinan penyebabnya karena terlalu gembira. Memang benar, aku sangat gembira. Memang benar, aku sangat gembira karena besoknya aku akan terbang ke Gorontalo, kampung halamanku. Terbayang sudah di benakku, betapa bahagianya bertemu saudara-saudaraku tercinta. Rupanya inilah yang menyebabkan tekanan darahku melonjak drastis. Kata dokter lagi, tensi tinggi tak masalah bagi yang memang punya riwayat tekanan darah tinggi karena sudah terbiasa tinggi. Yang berbahaya justru seperti yang kualami. Apa lagi, aku juga punya riwayat kolesterol tinggi.

Beberapa saat setelah masuk rumah sakit, aku langsung tak bisa berjalan dan bicara. Tetangga, saudara, dan teman-temanku bergantian datang menjenguk kondisiku yang memprihatinkan. Sebagian menduga aku tak bisa selamat. Bahkan, ada yang mengabarkan pada saudara-saudaraku di Gorontalo bahwa aku telah meninggal, sehingga mereka menangis. Mungkin sakit ini adalah teguran Tuhan buatku. Jadi kuterima saja dengan iklas.

Terapi Biji Merica
Alhamdulillah, setelah 10 hari dirawat di rumah sakit, aku diizinkan pulang meski masih belum bisa berjalan dan bicara. Di rumah, aku dirawat anak sulungku, Irliani Sarwono, satu-satunya anak perempuanku. Ketiga adiknya laki-laki. Kebetulan ia belum bekerja waktu itu. Salah seorang tetangga menyarankan agar aku diterapi dengan  merica. Terapis dari Majalengka yang ia sarankan kemudian dipanggil ke rumah. Meski merica yang ia gunakan hanya sebutir, tapi sakitnya luar biasa ketika ditekankan ke jari-jari kakiku.

Terapi itu berlangsung selama satu jam. Seminggu kemudian, terapi itu diulang, lalu sekali lagi pada minggu berikutnya. Si terapis memang mengatakan ia hanya akan memberi terapi tiga kali. Katanya, kalau tiga kali itu berhasil, insya Allah aku bisa sembuh. Ia juga memintaku yakin bahwa aku bisa sembuh. Setelah terapi itu, tak ada lagi terapi ini-itu yang kulakukan, meski banyak yang menyarankan. Aku hanya mengandalkan obat dokter dan rutin kontrol.

Sehari-hari, semua aktivitas kulakukan di tempat tidur, termasuk salat, makan, sampai buang air. Selama dua tahun kondisiku seperti itu. Namun, tak sedikit pun terbersit putus asa dalam benakku. Aku yakin, Tuhan yang memberikan penyakit ini dan Dia pula yang akan menyembuhkannya. Aku yakin, penyakit ini pasti ada obatnya dan aku selalu berdoa.

Namun, di tempat tidur terus-terusan lama-lama bosan juga. Alhamdulillah, setelah sekian lama terbaring  di tempat tidur, aku mulai bisa bangun. Aku mulai bisa keliling di dalam rumah dengan kursi roda. Namun, kupikir, kalau di kursi roda terus, kapan aku akan sembuh?

Akhirnya,  setelah enam bulan berada di kursi roda, kuputuskan belajar berjalan. Dengan dituntun anakku, aku mulai belajar berjalan di dalam rumah. Kupaksakan kakiku melangkah, meski kemudian jatuh. Tak kapok, aku kembali bangun dan berjalan. Aku jatuh lagi. Begitu terus yang terjadi.

Suara Terbata
Semangatku sangat besar untuk sembuh, makanya aku tak mau menyerah. Orang bilang, kalau sudah kena stroke sebaiknya jangan sampai jatuh tapi aku tak peduli. Aku yakin bisa sembuh dan ingin bisa berjalan lagi.

Ketika kontrol ke dokter, ia menyarankan agar aku rutin bernyanyi dan tak usah menjalani terapi macam-macam. Ia tahu bahwa sebelumnya aku aktif bernyanyi. Maka, setelah bisa bangun dari tempat tidur dan mulai bisa sedikit berjalan, kuminta anakku mengantar ke Mulo untuk bernyanyi lagi. Setelah dua tahun, akhirnya aku keluar rumah juga.

Anak-anakku ikut menemani. Saat itu, aku tak lagi memakai kursi roda. Melihat kedatanganku, teman-teman di Mulo sangat gembira menyambut. Seraya dipegangi anakku, aku maju kedepan bernyanyi dengan iringan musik. Sebetulnya suaraku tidak keluar, yang terdengar hanya suara tak jelas yang hanya sepatah-patah dan terbata-bata. Jelek. Tidak puguh, kalau kata orang Sunda. Mungkin, orang lain akan merasa malu kalau menjadi aku saat itu. Tapi aku tidak peduli.

Toh, aku tidak melakukan perbuatan yang tidak-tidak. Ini kulakukan demi ingin sembuh. Jadi, aku percaya diri saja. Mungkin karena terbiasa menghadapi orang banyak saat menjadi MC, ya. Lagi pula, toh teman-temanku juga tahu aku sedang sakit dan bernyanyi merupakan terapiku. Toh, itu bukan lomba. Teman-temanku dengan penuh perhatian mendengarkanku bernyanyi dan bertepuk tangan setelahnya. Tak satupun yang mengejek. Mereka sangat mendukungku.

Aku tak tahu, ternyata mereka menangis di belakangku. Mereka tahu seperti apa aku kala bernyanyi sebelum terserang stroke, jadi mereka sangat sedih melihatku saat itu. Anak-anaku pun sedih  karena aku belum bisa bernyanyi. Kukatakan, biar saja dan aku akan terus bernyanyi  sampai bisa. Sejak itu, setiap hari aku datang ke Mulo untuk bernyanyi, kecuali Minggu karena Mulo libur. Lagi-lagi suara tak jelas itu yang keluar dari mulutku, dan lagi-lagi teman-temanku memberiku semangat sepenuh hati  mereka.

Suasana kekeluargaan seperti inilah yang memang membuatku sangat menyukai Mulo. Tak ada perbedaan. Mereka seperti kakak dan adikku sendiri. Bernyanyi kemudian menjadi terapiku. Di rumah, setiap hari aku juga latihan bernyanyi sambil main kibor. Ini sekaligus terapi agar jari-jari tanganku tidak kaku lagi. Pada tetangga-tetanggaku, aku meminta maaf kalau suara kiborku mengganggu. Kujelaskan pada mereka bahwa itu adalah terapiku. Untung mereka bisa mengerti.

Tak Lagi Ditemani
Selain bernyanyi, berolahraga dan minum air putih setiap pagi juga menjadi terapiku. Semasa sehat dulu, pola hidupku memang tidak bagus. Aku sering lupa makan, terutama saat jadi MC. Meski aku sangat menikmati ketika melakukannya, sebelumnya aku juga harus memikirkan bagaimana agar acara orang lain bisa berjalan lancar. Aku juga tak pernah sarapan. Segelas besar kopi menjadi pengganti sarapanku tiap pagi. Sejak sakit, kuharuskan makan tiga kali.

Makan gorengan dan minuman kopi yang dulu jadi kegemaran tak kusentuh lagi. Pendeknya, semua saran dokter kuikuti. Ada memang yang bertanya, kenapa aku menghambur-hamburkan uang untuk bernyanyi, karena memang membayar. Kujawab saja, aku memang bukan orang yang punya, tapi lebih baik uangnya kugunakan untuk bernyanyi karena itu anjuran dokter, daripada mencoba terapi ke sana-sini dan belum tentu ada hasilnya. jadi, untuk menyanyi sengaja kusisihkan uang.

Setelah enam bulan bernyanyi setiap hari, hasilnya mulai kurasa. Aku mulai lancar bernyanyi dan bicara, meski masih agak kaku. Aku terus bernyanyi setiap hari sampai akhirnya aku kembali lancar berbicara dan berjalan. Mungkin butuh waktu satu tahun sejak pertama kali aku bernyanyi lagi.

Sepertinya, Tuhan memang sudah mengatur semuanya. Tepat setelah aku bisa berjalan, Irliani yang selama ini,merawatku, mendapat panggilan pekerjaan di Balikpapan. Dan, setelah bisa berjalan lancar seperti dulu, aku pun berangkat ke Mulo sendiri naik angkutan kota. Tanpa ditemani.

Tetangga-tetangga, bahkan dokterku sampai heran bagaimana aku bisa sembuh. Aku percaya, semua mukjizat ini karena Allah. Sekarang, tiga bulan sekali aku masih kontrol. Meski menurutku masih sedikit kaku dan bicaraku pelo, menurut teman-temanku tidak. Aku percaya, dengan berjalannya waktu aku bisa sembuh. Doaku memang satu, aku bisa sembuh seperti belum sakit. Setiap hari, aku masih tetap  berlatih nyanyi di rumah dan Mulo. Kalau awal terapi dulu aku hanya bisa bernyanyi 3-4 lagu, sekarang  bisa 12 lagu.

Sejak sakit pula, semua kegiatan aku stop, kecuali bernyanyi. Anak-anakku melarangku mengemsi lagi. Namun, mereka mendukungku untuk terus bernyanyi. Kalau aku absen. Anakku bertanya apakah aku tak punya uang? Lalu mengirim unng. Ya, kini aku memang hidup dari uang pensiun dan kiriman anak-anakku. Tiga dari mereka tinggal di luar kota, satu lagi sekota  denganku. Terkadang, kuajak anak, menantu, dan cucuku ikut bernyanyi  di Mulo. 

Kini, kalau ada tetangga yang terkena stroke, aku selalu menyemangatinya dan mengajaknya terapi bernyanyi di Mulo.@HASUNA DAYLAILATU    


Saturday, June 17, 2017

Realitas Virtual Bantu Pulihkan Pasien Stroke

Penderita stroke umumnya lumpuh pada sebagian anggota tubuh, khususnya tangan. Namun, kerap kali tangan lumpuh itu tak diterapi atau dirangsang untuk bergerak sehingga kian lemah. Riset di Spanyol menunjukkan tayangan realitas virtual memungkinkan pasien stroke melihat gerakan tangan lemah di layar monitor. Itu mendorong pasien berpikir kemampuan lengannya lebih kuat dibandingkan kondisi sebenarnya. Tayangan itu meningkatkan kesempatan pasien menerapkannya di kehidupan nyata, "Hal mengejutkan, tayangan virtual realitas gerakan tangan penderita selama 10 menit mendorong mereka memakai tangan lebih spontan," kata salah satu  peneliti, Belen Rubio, dari Laboratorium Sintetik, Perseptif, Emosi dan Sistem Kognitif di Universitas Pompeu Fabra, Spanyol, Selasa (9/6).

Terapi  melihat tayangan virtual itu membantu pemulihan penderita stroke sehingga lengan lemah bisa bergerak spontan lagi. Sebelum melihat tayangan virtual, 20 pasien stroke yang diuji umumnya memakai lengan paretik (lumpuh sebagian) untuk menjangkau sesuatu di depannya sebesar 35 persen. Seusai melihat tayangan, penggunaan lengan paretik 50 persen atau seperti orang normal. Menurut Prof Paul Verschure, pemimpin riset, dalam jangka panjang dampak tayangan realitas virtual pada kehidupan pasien perlu dipantau. (BBC/MZW)