KlinikStrokeNusantara.com

KLINIK STROKE NUSANTARA

Stroke bisa menyerang Anda, saya atau siapa saja secara mendadak, tanpa tanda-tanda atau gejala apa pun ! Waspadalah ! Berhati-hatilah !

Bilamana orang yang Anda cintai terserang stroke, bawalah ke rumah sakit dan minta paksa dirawat di ruang gawat darurat (UGD) atau Intensive Care Unit (ICU). Walaupun, pihak rumah sakit mengatakan cukup dirawat di ruang biasa. Paksa, tetap minta di ruang gawat darurat, agar segera ditangani secara intensif, sehingga kerusakan atau kelumpuhan yang terjadi bisa benar-benar minimal. (Karena banyak rumah sakit tidak tahu harus berbuat apa menghadapi pasien yang terkena stroke, jangan heran, kalau pasien hanya dibiarkan saja).

Setelah dirawat di UGD dan kondisinya stabil, segera hubungi Sinshe Hans di telepon (021) 5637475, 5637476 handphone/whatsapp 0819 3261 8088, 0813 1261 3636. Karena banyak pasien stroke bisa pulih lebih cepat setelah diterapi oleh kami, dibandingkan dengan terus dirawat di rumah sakit.

Pasien-pasien stroke yang dirawat di Klinik Stroke Nusantara, merasakan banyak kemajuan setiap selesai sekali diterapi. Diperlukan 3 sampai 8 kali terapi. Selama ini, hanya 1 (satu) pasien Stroke, seorang pendeta yang lumpuh total (2 kaki dan dua tangan nggak bisa digerakkan setelah operasi) diterapi sampai 9 kali.

Selain Klinik Stroke Nusantara, kami juga menjual dan menyewakan ranjang rumah sakit: ranjang-rumah-sakit.com; kursi roda: kursi-roda.com, sewakursiroda.com, kursirodabekas.com; tabung oksigen: tabungoksigen.net, sewatabungoksigen.com, tabungoksigenbekas.com; regulator oksigen: regulator-oksigen.com; selang ngt silicon: selangngt.com, selang oksigen: selang-oksigen.com; sarung tangan karet: sarungtangankaret.com; alat bantu jalan: alatbantujalan.com; perawat orang sakit: yayasanperawatindonesia.com; kasur decubitus: sewakasurdecubitus.com; suction pump: sewasuctionpump.com; selang NGT: selangNGT.com; urine bag: urine-bag.com dan alat kesehatan lainnya.

Untuk konsultasi & terapi, silakan hubungi
Sinshe Hans
di telepon (021) 5637475, 5637476 handphone/whatsapp 0819 3261 8088, dan 0813 1261 3636. (... Tarif jasa per sekali datang terapi ke rumah atau rumah sakit Rp. 400.000,- untuk wilayah Jakarta dan
Rp 450.000 untuk Tangerang, Depok, dan Bekasi)

Tuesday, November 28, 2017

Wartawan Senior Lumpuh Sebelah Badan

Selama setahun belakangan, SK Martha hanya bisa berbaring di tempat tidur. Wartawan senior ini menderita kelumpuhan sebelah badan akibat terserang stroke.

Kondisi SK Martha memang memprihatinkan. Pria kelahiran Lawang, Malang, Jawa Timur, 15 Januari 1941 ini, hanya bisa terbaring di tempat tidur di kediamannya , Jalan Jagakarsa I RT 02 RW 07 Nomor 8, Jakarta Selatan.

SK Martha, sudah tak dapat menggerakkan lengan dan kaki kirinya. Sepasang kakinya tampak kurus dengan kulit keriput sehingga tulang-tulang menonjol. Pada bagian bawah tubuhnya terpasang selang kateter yang tersambung ke dalam kandung  kemihnya melalui uretha.

Ayah dua anak dan kakek dari enam cucu ini sulit untuk berbicara. Pendengaran telinga kirinya yang sejak lama menjadi modal dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya sudah berkurang fungsi. Setiap ingin berkomunikasi, SK Martha meminta lawan bicaranya untuk berbicara di dekat daun teling kirinya.

Kemudian agar bisa duduk atau berpindah ke kursi roda, SK Martha harus dibantu oleh orang lain. Kalaupun bisa duduk di tempat tidur, di bagian belakng pinggulnya harus diganjal banyak bantal.

Beruntung SK Martha memiliki istri sebaik Sukaesih (70). Dengan penuh kesabaran, cinta, dan kasih sayang, mantan guru sekolah Taman Kanak-Kanak ini mengurus suaminya itu. Tanpa mengenal lelah, siang dan malam Sukaesih mengganti pampers, dan membantu suaminya berpindah dari tempat tidur ke kursi roda.

“Meski kondisi fisik suami saya melemah, namun keinginannya untuk sembuh begitu kuat,” ujar perempuan yang dinikahi SK Martha tahun 1965 ini.

Lupa makan
Derita SK Martha itu berawal dari stroke ringan yang menyerangnya sekitar Maret 2012. Di hari itu, sejak pagi hingga sore hari, SK Martha sibuk mengurus tanaman di perkarangan rumahnya. Rupanya SK Martha keasyikan memangkas daun-daun kering, memberi pupuk, dan memindahkan tanaman dari  satu pot ke pot lainnya di hari itu.  Ia pun lupa makan.

SK Martha baru makan pada malam harinya. Ia menyantap sepiring nasi, sayuran dan ikan kesukaannya dengan lahap. Usai makan mendadak tubuhnya terasa lemas. Di malam naas itu, ia tidak bisa menggerakan tangan kirinya. Ia juga sulit untuk mengangkat kaki kirinya.

“Malam itu saya terserang stroke ringan. Lalu, saya panggil istri dan menceritakan kondisi tubuh saya,” kenang SK Martha dengan susah payah menceritakan awal penderitaannya.

Malam itu juga SK Martha yang sudah tak berdaya segera dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya. Namun, tidak mudah untuk mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit. Beberapa rumah sakit menolak dengan alasan ruang perawatan penuh.

Sang istri, Sukaesih, yang mencemaskan nasib suaminya tak mau menyerah begitu saja. Bermodalkan kartu Askes, Sukaesih berjibaku membelah kemacetan Jakarta. Mendatangi satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Perjuangan Sukaesih dalam menyelamatkan suaminya membuahkan hasil setibanya di Rumah Sakit UKI, Cawang, Jakarta Timur.

“Suami saya dirawat selama satu bulan di rumah sakit itu,” ungkap Sukaesih. “Setelah menjalani perawatan berangsur-angsur kondisi suami saya membaik hingga diperbolehkan pulang ke rumah,” lanjut Sukaesih.

Menjalani terapi
Pasca dirawat di rumah sakit, wartawan senior dengan spesialisasi di bidang film, musik, hiburan dan budaya ini, lebih banyak menghabiskan hari-harinya di rumah. SK Martha tak bisa lari pagi lagi bersama sang istri di Ragunan. Hingga di penghujung tahun 2012, SK Martha kembali terserang stroke.

Serangan stroke kali kedua ini lebih buruk dibandingkan stroke pertama. Akibatnya, SK Martha mengalami kelumpuhan sebelah badan, penurunan kemampuan berkomunikasi, dan perubahan mental.

Namun, SK Martha enggan dirawat di rumah sakit. Ia lebih memilih menjalani proses rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi tubuhnya. Sekali dalam seminggu, SK Martha harus menjalani terapi di kawasan Depok, Jawa Barat. Sekali terapi ia harus mengeluarkan uang Rp 250 ribu.

SK Martha juga harus mengonsumsi susu Milelia dan herbal organik. Harga satu kemasan susu itu Rp 55 ribu. Dalam sebulan ia menghabiskan sedikitnya empat kemasan susu. Adapun harga herbal organik untuk dikonsumsi selama satu bulan mencapai Rp 550 ribu. Itu belum termasuk obat-obatan.

“Untuk keperluan terapi, membeli obat, hingga membeli susu, saya mengandalkan uang pensiun saya dan pemberian dari anak-anak. Tapi terkadang tidak mencukupi,” tutur Sukaesih.

Perjalanan karier SK Martha sebagai wartawan dimulai sejak tahun 1960-an. Saat melangsungkan pernikahan dengan Sukaesih tahun 1965, ia sudah bekerja di Radio Angkatan Udara. Kemudian ia bergabung di majalah Tjaraka, majalah Vista, majalah Jakarta-Jakarta, majalah Dialog, harian Berita Buana dan majalah Reaksi.

Tahun 1999, SK Martha bersama pengamat musik Bens Leo membidani kelahiran majalah New Music. Pada 2012, ia merilis sebuah buku puisi berjudul Lawang Getar Rindu.

Nama SK Marta sempat menghias berita headline sejumlah media cetak hiburan di tahun 1985. Ia menjadi  korban pemukulan oleh suami artis Jenny Rachman saat itu, Budi Prakoso, karena dituduh menulis berita yang dianggap merugikan dan mencemarkan nama baik Jenny.

Di hari peristiwa terjadi, SK Martha sudah membuat janji dengan sang istri di Rawajati, Jakarta Selatan. "Tapi pada jam yang sudah disepakati, suami saya tidak muncul muncul. Begitu muncul wajahnya sudah lebam,” kenang Sukaesih. @Budi Kusnendar

Waspadai Stroke

Bersandar dari data tahun 1991 hingga tahun 2007 (hasil Riset Kesehatan tahun 2007), stroke merupakan penyebab kecacatan utama dan kematian di hampir seluruh rumah sakit di Indonesia.

Sementara data Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) tahun 2009 menunjukkan, penyebab kematian utama di rumah sakit akibat stroke mencapai 15 persen. Dengan kata lain, 1 dari 7 kematian disebabkan oleh stroke dengan tingkat kecacatan mencapai 65 persen.

Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali. Adapun sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang. Sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di tempat tidur.

Peningkatan prevalensi kasus stroke ini menunjukkan adanya ancaman serius bagi bangsa Indonesia. Karena selain mengakibatkan menurunnya kualitas hidup penderitanya, stroke juga mengakibatkan beban sosial dan ekonomi bagi penderita dan keluarganya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peningkatan jumlah penderita stroke di Indonesia identik dengan wabah kegemukan. Akibat pola makan kaya lemak atau kolesterol di kalangan masyarakat Indonesia.

Stroke sendiri termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral). Penyebabnya, karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak. @Budi K.

Friday, November 17, 2017

Polusi dan Umur

POLUSI udara dari beragam sumber  seperti asap memasak di India, asap kendaraan di AS, dan penggunaan pestisida di Rusia diklaim telah menewaskan 3,3 juta jiwa di seluruh dunia dalam setiap tahunnya.

Menurut peneliti dari Institut Max Plack untuk kimia di Jerman, sebagian besar korban, hampir 75%, meninggal dunia karena stroke dan serangan jantung yang dipicu akibat menghirup udara kotor dalam waktu cukup lama. Sisannya meninggal karena sakit pernapasan dan kanker paru-paru.

Peneliti menggunakan model yang mampu menggabungkan pengukuran kualitas udara, populasi, statistik kesehatan, dan risiko polusi terhadap kesehatan.

Di Rusia dan AS, pertanian menyumbang sebagian besar polusi dengan partikel di bawah 2,5 mikron sehingga mudah menembus paru-paru. Penelitian yang dipublikasikan Journal of Nature itu memprediksi jumlah kematian akibat polusi udara di luar ruangan akan berlipat ganda menjadi 6,6 juta jiwa setiap tahunnya pada 2050. (AFP/Fox/X-5)

Tuesday, August 29, 2017

Stroke Usia Muda

Pertanyaan Tika di Jakarta

Assalamualaikum wr wb.
Kakak saya, 42 tahun, seminggu yang lalu tiba-tiba merasa pusing, lalu muntah, dan kakinya lemas. Kami kemudian membawanya ke rumah sakit.  Ternyata tensinya sangat tinggi 190 per 120 sehingga ia dianjurkan untuk dirawat. Awalnya dokter mengatakan bahwa kakak saya tidak mengalami stroke karena tidak ada kelumpuhan ataupun kelemahan, tindakan yang perlu segera dilakukan adalah menurunkan tensinya dengan pemberian obat.

Beberapa jam kemudian, kakak saya mengeluh kesemutan di tangan kiri. Dokter lalu menganjurkan CT Scan yang ternyata hasilnya ditemukan perdarahan di otak. Dokter menyatakan ada stroke, jenis stroke perdarahan. Akhirnya diputuskan untuk dilakukan operasi segera. Saat akan dioperasi, ia masih sadar, dokter mengatakan, kaki dan  tangan kirinya sudah  mengalami kelemahan  yang derajatnya ringan.

Pertanyaan saya, mengapa keadaan kakak saya  bisa berkembang menjadi stroke? Apakah tidak bisa diketahui lebih cepat sebelum perdarahan menjadi banyak? Kakak saya sebelumnya tidak pernah diketahui menderita tekanan darah tinggi, hanya memang dia gemuk. Setelah di rumah sakit, baru diketahui kolesterolnya juga tinggi, gula darah normal. Dokter, sejak usia berapa kita harus mulai rutin memeriksa tekanan darah? Sekarang alhamdulillah tekanan  darah masih normal. Terus terang, saya dan saudara-saudara saya yang lain menjadi khawatir karena takut bisa  mengalami sakit yang mendadak seperti yang kakak saya alami. Apalagi, ayah saya juga beberapa tahun yang lalu juga mengalami stroke perdarahan di otak, beliau sakit darah tinggi sejak usia muda dan di usia tuanya mulai timbul kencing manis.

Jawaban Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM

Mbak Tika yang baik,
Waalaikumsalam wr wb.
Stroke adalah penyakit yang disebabkan pecahnya pembuluh darah atau tersumbanya pembuluh darah yang ada di otak sehingga jaringan otak kekurangan oksigen. Data dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2007) menunjukkan bahwa stroke menjadi penyebab kematian tertinggi di wilayah perkotaan di Indonesia. Jumlahnya mencapai 15,9 persen dari proporsi penyebab kematian di Indonesia. Di pedesaan sedikit berbeda, tuberkulosis menjadi penyebab kematian tertinggi dengan proporsi 12,3 persen, disusul stroke di peringkat dua dengan proporsi 11,5 persen. Di negara lain, Amerika, misalnya setiap tahun tercatat sekitar 600 ribu orang mengalami stroke, dengan angka kematian sebesar 158 ribu orang.

Walaupun frekuensinya lebih jarang, stroke memang dapat  dialami orang-orang yang belum berumur lanjut. Stroke bahkan bisa terjadi pada usia belasan tahun, biasanya disebabkan adanya penyakit bawaan yang meningkatkan risiko terjadinya perdarahan atau sumbatan pembuluh darah di otak.

Setiap orang dapat terkena stroke, tetapi risikonya akan lebih tinggi bila memiliki satu atau lebih faktor risiko. Faktor risiko yang dapat dikontrol adalah hipertensi atau darah tinggi, kencing manis, fibrilasi atrial (salah satu bentuk kelainan irama denyut jantung), kegemukan, merokok, kolesterol tinggi, minum alkohol berlebihan, dan jarang berolahraga. Sedangkan faktor yang tidak dapat dikontrol dan tidak dapat dimodifikasi adalah usia, jenis kelamin laki-laki, riwayat keluarga, dan kelainan bawaan. Dari surat Anda terlihat bahwa kakak memiliki beberapa faktor risiko, yaitu darah tinggi, gemuk, kolesterol tinggi, dan adanya riwayat keluarga.

Gejala dan tanda penyakit  stroke tidak berbeda antara usia tua dan usia muda. Gejalanya sangat tergantung dari area otak mana yang mengalami perdarahan atau sumbatan pembuluh darah. Gejala stroke yang dapat dikenali dan harus segera dibawa ke rumah sakit adalah: (a) Tiba-tiba merasa baal/kelemahan/lumpuh di wajah, lengan, atau tungkai, terutama jika terjadi di satu sisi tubuh, (b) Mendadak kesulitan berbicara, sukar memahami pembicaraan orang, atau seperti kebingungan, (c) Kesulitan melihat pada satu atau kedua mata yang muncul mendadak, (d) Tiba-tiba sukar berjalan, linglung, atau kehilangan keseimbangan dan koordinasi tubuh gerakan tubuh, (e) Mendadak sakit kepala hebat, tanpa penyebab yang jelas.

Bisa jadi tidak semua tanda tersebut muncul, tergantung dari daerah otak mana yang terkena dan seberapa luas kerusakannya. Untuk diketahui bahwa otak memiliki area-area yang masing-masing memiliki fungsi khusus.

Stroke di usia kurang dari 45 tahun, seringkali tidak menjadi penyakit yang pertama kali dipikirkan dokter di ruang gawat darurat, hal ini karena frekuensinya yang jarang. Pada kasus kakak Anda, gejala awalnya memang masih dapat disebabkan oleh penyakit selain stroke. Untuk itu, mengenali tanda-tanda awal penyakit stroke  memang sangat penting. CT Scan yang dilakukan segera setelah kakak Anda mengeluh kesemutan sangatlah baik, untuk segera mendeteksi adanya perdarahan atau sumbatan pembuluh darah di otak. Penanganan stroke memang harus berpacu dengan waktu karena semakin lama, area yang terkena akan makin luas sehingga akibatnya bisa mengancam nyawa atau mengalami gejala sisa yang berat (kelumpuhan, sulit berbicara, dan lain-lain).

Darah tinggi adalah penyebab utama stroke. Misalnya, banyak orang yang mempunyai tekanan darah tinggi tidak menyadarinya, baik  di Indonesia, maupun banyak negara maju. Pengecekan tekanan darah harus dilakukan minimal sekali setahun. Karena Mbak Tika mempunyai  kakak yang stroke usia muda, sebaiknya periksa tekanan darah lebih sering dan mulailah dari sekarang.

Jika ditemukan darah tinggi, ubahlah diet Anda menjadi rendah garam dan lemak. Jika perlu minum obat, minumlah secara teratur, jangan malas minum obat karena merasa bosan. Selain itu, waspadalah dengan faktor-faktor risiko yang lain. Untuk faktor risiko yang dapat dikontrol, Anda harus melakukan perubahan pola hidup. Untuk Anda atau saudara kandung yang lain, walaupun mungkin masih berusia 20-an atau 30-an tahun,  perlu periksa laboratorium secara berkala, sekali setahun kadar gula darah dan lemak (kolesterol, trigliserida) Jangan minum alkohol, hindari mengonsumsi makanan yang banyak  mengandung lemak. Kita perlu makan buah dan sayur masing-masing tiga kali sehari, rutin berolahraga sehari setengah jam atau berjalan cepat, dan jaga berat badan agar tak berlebihan.

Adapun faktor risiko yang tidak dapat dikontrol, seperti usia yang terus meningkat dan riwayat keluarga, memang tidak dapat Anda ubah. Namun, dengan mengontrol faktor-faktor risiko lain, kemungkinan Mbak Tika mengalami stroke akan menurun.   

Sunday, August 13, 2017

Obat Berbentuk Musik

Musik bukan hanya nikmat didengarkan, melainkan juga berpengaruh pada kesehatan dan proses penyembuhan.

Di satu sudut sebuah ruang klinik, berjejer dua kulintang dan sederet angklung. Di seberangnya terdapat sebuah organ dan satu set angklung lainnya. Di tengah muka ruangan, di depan kursi-kursi, terdapat papan tulis berisi deretan not angka dan teks, dengan judul Bengawan Solo.

Ruangan di sudut kanan klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel, Apotek Trio Sada, kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat, ini digunakan ruangan terapi dengan musik angklung. Pesertanya penderita stroke. Terlihat mengisi deretan kursi, Rabu (4/11) pagi adalah orang-orang dengan gerak tubuh dan bicara tidak lancar.

Setiap peserta menerima satu angklung. Tiap angklung memiliki angka yang sesuai dengan angka not yang ada di papan tulis. Dengan sungguh-sungguh pria dan wanita yang kebanyakan sudah baya memainkan angklung  bergiliran. Mereka juga tampak menikmatinya dengan menggoyangkan badan sambil bermain.

“Saya mulai ikut sejak 2003, yang paling terasa ya hati jadi tenteram, ndak marah-marah. Orang stroke tidak boleh marah, karena bisa kena lagi nanti,” kata Winarto, 66, salah satu peserta. Pria dengan langkah agak kaku ini sekaligus Ketua Klub Stroke Karmel, perkumpulan penderita stroke yang mengikuti terapi di Karmel Stroke & Revitalization Center yang ada di klinik tersebut. Selain merasa lebih senang, Winarto mengatakan bermain angklung memperbaiki koordinasi gerak dan bicaranya.

Drum untuk autisme
Jika di klinik itu para penderita stroke bermain angklung, di Gilang Ramadhan Studio Drummer (GRSD) anak-anak hiperaktif dan penderita autisme bermain drum. “Orang tua sendiri yang datang  ke sini atas saran dokter, mereka bilang main musik bagus untuk anak pengidap autisme. Dan saya sendiri melihat, memang setelah main drum komunikasi dan gerak mereka lebih bagus,” kata Gilang yang ditemui di studionya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (3/11).

Di GRSD, anak-anak dengan kondisi khusus itu masuk kelas paling awal, yakni pembentukan feel bermain drum. Di sini anak-anak bermain dengan drum yang terbuat  dari bantalan-bantalan busa sehingga tidak mengeluarkan suara. Musik drumnya berupa musik instruksi yang muncul pada televisi di depan kelas. Anak-anak mengikuti instruksi itu.

“Saya melihat latihan drum melatih konsentrasi mereka. Istilahnya mereka diterapi tapi dalam suasana santai sambil mengikuti musik,” kata Gilang.

Tidak seperti anak-anak yang melanjutkan ke level lebih tinggi setelah tiga bulan, anak dengan kondisi hiperaktif dan penderita autisme terus berada pada level awal ini. “Di level selanjutnya sudah ada pelajaran baca not. Sedangkan untuk anak-anak ini  kan tujuannya melatih gerak dan koordinasi saja, jadi kalau naik level nanti stres,” tambah Gilang.

Pendamping obat
Dokter spesialis saraf dr Hermawan Suryadi  SpS mengatakan  terapi musik untuk  penyakit stroke, seperti hiburan karaoke yang dimulai di Jepang pada awalnya merupakan terapi yang diciptakan seorang dokter untuk penderita stroke.

“Di Eropa sudah ada standarnya sendiri dan di Australia ada lembaga yang khusus mengembangkannya, karena sudah terbukti terapi musik bisa membantu penyembuhan penyakit saraf, stroke, demensia, autisme, dan hiperaktif,” kata dokter yang memimpin Sekolah Stroke dan Klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi Karmel ini.

Hermawan menjelaskan peran terapi musik ini adalah sebagai pendamping terapi obat. Jadi obat tetap jalan dan terapi musik ini sebagai pendampingnya ,” kata dia.

Masih menurutnya, terutama bermusik, tekanan emosi dapat berkurang, sehingga pada akhirnya penderita merasa lebih tenang, hilang rasa takut, percaya diri dan tidak sulit tidur. Kejiwaan yang tenang itu memengaruhi keberhasilan terapi pengobatan.

Selain kejiwaan, terapi musik dengan memainkan alat dan bernyanyi mengaktifkan bagian-bagian otak. Dengan  bernyanyi, sistem pusat bahasa di otak kiri akan teraktifkan, dan dengan mengikuti irama musik, otak bagian kanan akan teraktifkan.

Terapi musik yang dilakukan dengan cara memegang alat  akan melatih koordinasi dan gerak.“ Terapi ini juga membantu konsentrasi karena orang harus mengikuti nada dan gilirannya,” kata Hermawan.
Dengan kata lain, terapi musik merupakan terapi saraf dan motorik yang dikemas menyenangkan. (M9)

Wednesday, August 9, 2017

Jus Jeruk Cegah Stroke

SEBUAH  studi baru yang dilaporkan Daily Mail menunjukkan mengosumsi jeruk dapat membantu menurunkan risiko stroke. Sebabnya senyawa hesperindin yang terkandung dalam jeruk mampu meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk otak.

Tim ilmuwan menggunakan mesin doppler fluximeter dengan sinar laser untuk mengukur aliran darah melalui kulit.

Larutan hesperindin yang setara dengan dua cangkir jus jeruk, peneliti menjelaskan, mampu menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Peneliti menemukan aliran darah partisipan yang mengonsumsi jus jeruk segar ternyata lebih baik sehingga efek stroke berkurang.

Pada kasus lain, kelompok perempuan yang sensitif terhadap temperatur dingin diberi larutan fitonutrien jeruk. Hasilnya tangan mereka tidak sedingin kelompok yang minum plasebo. (Daily Mail/Hym/X-8)  

Monday, July 31, 2017

Waspadai Stroke di Usia 30 Tahun

Pasien stroke ibarat berpacu dengan waktu. Menunda penanganan sama dengan mengambil risiko untuk mengorbankan fungsi otak. Jangan sampai terlambat.

Stroke masih menjadi momok yang mengintai penduduk usia lanjut. Data tahun 2010 di Amerika Serikat menyebutkan, stroke berada di urutan tiga teratas sebagai penyebab kematian setelah penyakit jantung dan kanker, dengan angka kasus mencapai tujuh ratus ribu per tahun.

Di Indonesia data Riskesdas 2013 menyebutkan prevalensi stroke mencapai 12,1 per seribu orang. Diperkirakan, angka ini akan terus meningkat sejalan dengan peningkatn faktor risikonya.

Dr Nizmah SpS., spesialis saraf dari RS Bunda Jakarta, menyebutkan bahwa penyakit ini pun masih menjadi penyebab kecacatan nomor satu di dunia. “Tanpa  pengobatan, 62 persen pasien stroke bisa mengalami kecacatan, di antaranya gangguan berjalan, gangguan bicara, gangguan penglihatan, adanya perubahan ekspresi wajah, dan sebagainya.”

Kecacatan ini, tambah Nizmah berkaitan erat dengan hilangnya kemandirian dan menurunnya kualitas hidup pasien. “Ini pun erat kaitannya dengan stres secara emosional,” pungkasnya saat menjadi pembicara di seminar “Stroke Bukan Akhir Segalanya” yang diadakan di RS Bunda Jakarta.

3 Jenis Serangan
Stroke muncul bila ada hambatan pada aliran darah ke otak. “Ini sebenarnya termasuk penyakit orang tua. Namun sekarang, di umur 25 tahun saja seseorang sudah bisa terkena stroke. Bahkan angka pasien dengan stroke di usia 30 tahun meningkat. Penyebabnya, tak lain adalah gaya hidup yang berubah,” terang dr. Ibnu Benhadi, Sp.BS(k), spesialis bedah saraf dari RS Bunda. Ia pun mengungkapkan, dari tujuh orang yang meninggal, satu di antaranya disebabkan oleh stroke.

“Aliran darah menjadi penentunya. Pasalnya, ia adalah jalan utama sekaligus pemasok utama oksigen dan saripati yang akan dipompa oleh jantung, lalu dialirkan ke otak. Jika ada sumbatan aliran darah ke otak lebih sedikit dari 15cc/100gr/menit, maka akan menyebabkan kematian sel. Matinya sel-sel di area otak itulah yang menyebabkan stroke,” terang Ibnu.

Padahal, otak berfungsi untuk mengatur semua fungsi tubuh, mulai dari fungsi motorik, mengecap rasa, berpikir, dan bertingkah laku. Ibnu pun menyebutkan, ada tiga jenis stroke yang umum 
mengenai pasien.

      Stroke Iskemik. Stroke iskemik alias stroke yang disebabkan sumbatan merupakan kasus terbanyak pada pasien stroke. “Sebanyak 80 persen kasus stroke disebabkan oleh adanya sumbatan. Ini bisa diberikan obat pengecer darah, tapi pemberiannya hanya efektif di 3 jam pertama setelah serangan,” jelas Ibnu.
       
        Stroke Hemoragik. Stroke yang disebabkan adanya perdarahan akibat pembuluh darah di otak pecah. “Kasus stroke yang demikian dialami oleh 10-15 persen pasien. Apabila sudah ada perdarahan, maka bisa dilakukan pembedahan.”

     Mini Stroke. Jenis yang ketiga adalah mini stroke atau serangan otak sepintas. Mini  stroke juga biasa dikenal dengan istilah TIA (Transient Ischemik Attack). “Jenis stroke ini dialami oleh 5 persen pasien stroke. Namun perlu diketahui, sebanyak 30 persen stroke didahului dengan mini stroke. Biasanya, serangan TIA itu ini bisa  membaik dengan sendirinya dalam waktu semalam, Tapi tetap perlu ditangani,” tambah Ibnu.

Penelitian yang akurat tentang penyebab terjadinya stroke, dapat menentukan pengobatan apa yang sebaiknya ditempuh. “Lebih lanjut, ini dapat sangat menentukan keberhasilan terapi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Penanganan Cepat
Penanganan yang cepat dan tepat di fase akut akan sangat menentukan kondisi pasien selanjutnya. Dalam manajemen stroke akut, dikenal istilah golden period yang merujuk pada batas waktu pasien harus mendapat penanganan.

“Pasien stroke rata-rata telah mendapat penanganan karena memang di awal-awal tidak ada rasa nyeri. Gejalanya ringan, sehingga mungkin sekali pasien tidak menyadari. Pasien baru memeriksakan jika gejalanya sudah berlanjut,” tutur Nizmah.

Meski demikian, ujar dr. Heri Aminuddin, MD spesialis bedah saraf dari RS Bunda, saat pasien sudah terkena stroke, bukan berarti tak ada lagi harapan. “Terpenting, ia mendapat penanganan yang cepat dan tepat. Golden period pada pasien stroke adalah 6-8 jam . Itu sudah harus ditangani. Tapi yang terpenting dan sangat berpengaruh justru di jam-jam pertama, “terangnya.

Sementara itu, untuk melakukan penanganan dengan cepat dan tepat, tutur Nizmah, diperlukan pengetahuan untuk mengenali tanda-tanda awal stroke. “Cara-cara mengenalinya dapat disingkat menjadi FAST,” pungkasnya.

FAST adalah singkatan dari Face dropping, Arm weakness, dan Speech difficulty yang dapat dijadikan indikasi pasien stroke, serta Time yang artinya segera manfaatkan waktu untuk membawa pasien  ke rumah sakit jika tanda-tandanya mengindikasikan ia terkena stroke.

“Dalam stroke, kehilangan waktu sama dengan kehilangan otak. Jika aliran darah berhenti dan suplai darah yang berisi oksigen dan glukosa ke otak berhenti lebih dari lima menit, sel-sel itu bisa mati,” tambah Nizmah.

Namun meski daerah intinya sudah mati, ia menambahkan, masih ada daerah di sekitanya, yaitu penumbra, yang akan diselamatkan. “Daerah penumbra itu bisa dibilang masih pingsan, belum mati. Pasien yang datang karena stroke itu, kan, rata-rata daerah sel intinya sudah mati. Jadi yang diselamatkan adalah sel-sel yang pingsan di penumbra itu. Jangan sampai, daerah sekitanya ikut mati.”

Tekanan Darah Tinggi
Sebanyak 70 persen penderita stroke, ternyata juga mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, Nizmah menuturkan, stroke dapat dikendalikan salah satunya dengan mengontrol tekanan darah.
“Cara lain adalah dengan menekan risiko diabetes, obesitas, dan kolesterol tinggi. Namun paling pentinga adalah dengan mengurangi rokok,” ujarnya.

Dituturkan Nizmah, rokok sebenarnya bukan hanya musuh besar  paru-paru, karena pengaruh rokok terhadap kesehatan aliran darah pun sangat besar.

“Rokok, kan, sering kali disebut sebagai pemicu kanker. Padahal, gangguan terbesar, akibat rokok adalah pembuluh darah. Racun-racun dalam rokok bisa menyumbat pembuluh darah dan pada akhirnya menurunkan fungsi jantung dan otak,” ujarnya. ANNELIS BRILIAN