KlinikStrokeNusantara.com

KLINIK STROKE NUSANTARA

Stroke bisa menyerang Anda, saya atau siapa saja secara mendadak, tanpa tanda-tanda atau gejala apa pun ! Waspadalah ! Berhati-hatilah !

Bilamana orang yang Anda cintai terserang stroke, bawalah ke rumah sakit dan minta paksa dirawat di ruang gawat darurat (UGD) atau Intensive Care Unit (ICU). Walaupun, pihak rumah sakit mengatakan cukup dirawat di ruang biasa. Paksa, tetap minta di ruang gawat darurat, agar segera ditangani secara intensif, sehingga kerusakan atau kelumpuhan yang terjadi bisa benar-benar minimal. (Karena banyak rumah sakit tidak tahu harus berbuat apa menghadapi pasien yang terkena stroke, jangan heran, kalau pasien hanya dibiarkan saja).

Setelah dirawat di UGD dan kondisinya stabil, segera hubungi Sinshe Hans di telepon (021) 5637475, 5637476 handphone/whatsapp 0819 3261 8088, 0813 1261 3636. Karena banyak pasien stroke bisa pulih lebih cepat setelah diterapi oleh kami, dibandingkan dengan terus dirawat di rumah sakit.

Pasien-pasien stroke yang dirawat di Klinik Stroke Nusantara, merasakan banyak kemajuan setiap selesai sekali diterapi. Diperlukan 3 sampai 8 kali terapi. Selama ini, hanya 1 (satu) pasien Stroke, seorang pendeta yang lumpuh total (2 kaki dan dua tangan nggak bisa digerakkan setelah operasi) diterapi sampai 9 kali.

Selain Klinik Stroke Nusantara, kami juga menjual dan menyewakan ranjang rumah sakit: ranjang-rumah-sakit.com; kursi roda: kursi-roda.com, sewakursiroda.com, kursirodabekas.com; tabung oksigen: tabungoksigen.net, sewatabungoksigen.com, tabungoksigenbekas.com; regulator oksigen: regulator-oksigen.com; selang ngt silicon: selangngt.com, selang oksigen: selang-oksigen.com; sarung tangan karet: sarungtangankaret.com; alat bantu jalan: alatbantujalan.com; perawat orang sakit: yayasanperawatindonesia.com; kasur decubitus: sewakasurdecubitus.com; suction pump: sewasuctionpump.com; selang NGT: selangNGT.com; urine bag: urine-bag.com dan alat kesehatan lainnya.

Untuk konsultasi & terapi, silakan hubungi
Sinshe Hans
di telepon (021) 5637475, 5637476 handphone/whatsapp 0819 3261 8088, dan 0813 1261 3636. (... Tarif jasa per sekali datang terapi ke rumah atau rumah sakit Rp. 400.000,- untuk wilayah Jakarta dan
Rp 450.000 untuk Tangerang, Depok, dan Bekasi)

Sunday, December 25, 2016

Waspadai Stroke di Usia 30 Tahun

Pasien stroke ibarat berpacu dengan waktu. Menunda penanganan sama dengan mengambil resiko untuk mengorbankan fungsi otak. Jangan sampai terlambat.

Stroke masih menjadi momok yang mengintai penduduk usia lanjut. Data tahun 2010 di Amerika Serikat menyebutkan, stroke berada di urutan tiga teratas sebagai penyebab kematian setelah penyakit jantung dan kanker, dengan angka kasus mencapai tujuh ratus ribu per tahun.

Di Indonesia data Riskesdas 2013 menyebutkan prevalensi stroke mencapai 12,1 per seribu orang. Diperkirakan, angka ini akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan faktor risikonya.

Dr Nizmah SpS., spesialis saraf dari RS Bunda Jakarta, menyebutkan bahwa penyakit ini pun masih menjadi penyebab kecacatan nomor satu di dunia. “Tanpa  pengobatan, 62 persen pasien stroke bisa mengalami kecacatan, di antaranya gangguan berjalan, gangguan bicara, gangguan penglihatan, adanya perubahan ekspresi wajah, dan sebagainya.”

Kecacatan ini, tambah Nizmah berkaitan erat dengan hilangnya kemandirian dan menurunnya kualitas hidup pasien. “Ini pun erat kaitannya dengan stres secara emosional,” pungkasnya saat menjadi pembicara di seminar “Stroke Bukan Akhir Segalanya” yang diadakaan di RS Bunda Jakarta.

3 Jenis Serangan
Stroke muncul bila ada hambatan pada aliran darah ke otak. “Ini sebenarnya termasuk penyakit orang tua. Namun sekarang, di umur 25 tahun saja seseorang sudah bisa terkena stroke. Bahkan angka pasien dengan stroke di usia 30 tahun meningkat. Penyebabnya, tak lain adalah gaya hidup yang berubah,” terang dr. Ibnu Benhadi, Sp.BS(k), spesialis bedah saraf dari RS Bunda. Ia pun mengungkapkan, dari tujuh orang yang meninggal, satu di antaranya disebabkan oleh stroke.

“Aliran darah menjadi penentunya. Pasalnya, ia adalah jalan utama sekaligus pemasok utama oksigen dan saripati yang akan dipompa oleh jantung, lalu dialirkan ke otak. Jika ada sumbatan aliran darah ke otak lebih sedikit dari 15cc/100gr/menit, maka akan menyebabkan kematian sel. Matinya sel-sel di area otak itulah yang menyebabkan stroke,” terang Ibnu.

Padahal, otak berfungsi untuk mengatur semua fungsi tubuh, mulai dari fungsi motorik, mengecap rasa, berpikir, dan bertingkah laku. Ibnu pun menyebutkan, ada tiga jenis stroke yang umum mengenai pasien.

1     Stroke Iskemik. Stroke iskemik alias stroke yang disebabkan sumbatan merupakan kasus terbanyak pada pasien stroke. “Sebanyak 80 persen kasus stroke disebabkan oleh adanya sumbatan. Ini bisa diberikan obat pengecer darah, tapi pemberiannya hanya efektif di 3 jam pertama setelah serangan,” jelas Ibnu.

2   Stroke Hemoragik. Stroke yang disebabkan adanya perdarahan akibat pembuluh darah di otak pecah. “Kasus stroke yang demikian dialami oleh 10-15 persen pasien. Apabila sudah ada perdarahan, maka bisa dilakukan pembedahan.”

3    Mini Stroke. Jenis yang ketiga adalah mini stroke atau serangan otak sepintas. Mini  stroke juga biasa dikenal dengan istilah TIA (Transient Ischemik Attack). “Jenis stroke ini dialami oleh 5 persen pasien stroke. Namun perlu diketahui, sebanyak 30 persen stroke didahului dengan mini stroke. Biasanya, serangan TIA ini bisa  membaik dengan sendirinya dalam waktu semalam, Tapi tetap perlu ditangani,” tambah Ibnu.

Penelitian yang akurat tentang penyebab terjadinya stroke, dapat menentukan pengobatan apa yang sebaiknya ditempuh. “Lebih lanjut, ini dapat sangat menentukan keberhasilan terapi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Penanganan Cepat
Penanganan yang cepat dan tepat di fase akut akan sangat menentukan kondisi pasien selanjutnya. Dalam manajemen stroke akut, dikenal istilah golden period yang merujuk pada batas waktu pasien harus mendapat penanganan.

“Pasien stroke rata-rata telah mendapat penanganan karena memang di awal-awal tidak ada rasa nyeri. Gejalanya ringan, sehingga mungkin sekali pasien tidak menyadari. Pasien baru memeriksakan jika gejalanya sudah berlanjut,” tutur Nizmah.

Meski demikian, ujar dr. Heri Aminuddin, MD spesialis bedah sarat dari RS Bunda, saat pasien sudah terkena stroke, bukan berarti tak ada lagi harapan. “Terpenting, ia mendapat penanganan yang cepat dan tepat. Golden period pada pasien stroke adalah 6-8 jam. Itu sudah harus ditangani. Tapi yang terpenting dan sangat berpengaruh justru di jam-jam pertama, “ terangnya.

Sementara itu, untuk melakukan penanganan dengan cepat dan tepat, tutur Nizmah, diperlukan pengetahuan untuk mengenali tanda-tanda awal stroke. “Cara-cara mengenalinya dapat disingkat menjadi FAST,” pungkasnya.

FAST adalah singkatan dari Face dropping, Arm weakness, dan Speech difficulty yang dapat dijadikan indikasi pasien stroke, serta Time yang artinya segera manfaatkan waktu untuk membawa pasien  ke rumah sakit jika tanda-tandanya mengindikasikan ia terkena stroke.

“Dalam stroke, kehilangan waktu sama dengan kehilangan otak. Jika aliran darah berhenti dan suplai darah yang berisi oksigen dan glukosa ke otak berhenti lebih dari lima menit, sel-sel itu bisa mati,” tambah Nizmah.
Namun meski daerah intinya sudah mati, ia menambahkan, masih ada daerah di sekitanya, yaitu penumbra, yang akan diselamatkan. “Daerah penumbra itu bisa dibilang masih pingsan, belum mati. Pasien yang datang karena stroke itu, kan, rata-rata daerah sel intinya sudah mati. Jadi yang diselamatkan adalah sel-sel yang pingsan di penumbra itu. Jangan sampai, daerah sekitanya ikut mati.”

Tekanan Darah Tinggi
Sebanyak 70 persen penderita stroke, ternyata juga mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, Nizmah menuturkan, stroke dapat dikendalikan salah satunya dengan mengontrol tekanan darah.

“Cara lain adalah dengan menekan risiko diabetes, obesitas, dan kolesterol tinggi. Namun paling penting adalah dengan mengurangi rokok,” ujarnya.

Dituturkan Nizmah, rokok sebenarnya bukan hanya musuh besar  paru-paru, karena pengaruh rokok terhadap kesehatan aliran darah pun sangat besar.

“Rokok, kan, sering kali disebut sebagai pemicu kanker. Padahal, gangguan terbesar, akibat rokok adalah pembuluh darah. Racun-racun dalam rokok bisa menyumbat pembuluh darah dan pada akhirnya menurunkan fungsi jantung dan otak,” ujarnya. ANNELIS BRILIAN 

Monday, December 19, 2016

Jimmy Greaves Terserang Stroke

BEKAS pemain Timnas Inggris dan Tottenham Hotspur Jimmy Greaves (75) dirawat di ruang intensif setelah mengalami serangan stroke, kemarin. Padahal, Greaves pernah memenangi dua kali Piala FA bersama Spurs dan Piala Winners, itu pada 13 Mei mendatang bakal masuk dalam Hall of Fame Tottenham.

"Kami dan setiap orang di klub mengharapkan Jimmy Greaves bisa segera pulih dari serangan stroke. Doa dan simpati kami untuk Jimmy dan keluarganya yang sedang melalui masa sulit ini," demikian bunyi pernyataan resmi klub.

Menurut pernyataan keluarga, itu bukan serangan stroke pertama yang dialami Greaves. Pada tahun 2012, pemain yang mencetak  266 gol dalam 370 laga bersama Tottenham pada periode 1962 hingga 1967 itu, pernah terkena serangan stroke ringan.

"Istrinya, Irene, dan empat anaknya, meminta semua pihak memberikan ruang pribadi bagi keluarga itu selama masa sulit ini. Mereka akan memberikan memberitahukan tentang kondisi Greaves pada saat yang dirasa memungkinkan". DRA

Stroke dan Sindrom Kaki Gelisah

SINDROM kaki gelisah (restless leg syndrom/RLS) dapat meningkatkan risiko terkena stroke. Sindrom itu akan membuat penderitanya sakit pada bagian kaki seperti kram, serta menyebabkan penderitanya kurang tidur, sulit tidur, bahkan kantuk yang berlebihan di siang hari. 

Dalam studi itu, peneliti dari Laboratorium Gizi Epidemiologi., Departemen Ilmu Gizi di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, menggunakan data terbaru dari 72.916 perawat perempuan yang berusia 41 - 58 tahun. Tidak satu pun  dari perempuan dalam penelitian itu yang hamil atau menderita diabetes  dan stroke

Dengan memperhitungkan faktor-faktor seperti usia, merokok, hipertensi, dan diet yang tidak sehat, peneliti mengungkapkan ada hubungan antara peningkatan sindrom RLS dan peningkatan risiko stroke. Tingkat keakutan RLS berperan besar dalam peningkatan risiko stroke. Temuan itu diterbitkan dalam Journal Sleep. (Counselheal/Fox/X-5)

Pulih Total dari Stroke dengan Kemauan Keras

Usianya masih 39 tahun saat terserang stroke yang melumpuhkan secara total bagian kanan tubuhnya pada tahun 2010. Amiruddin bahkan mengaku sempat berpikir untuk bunuh diri saat dirinya terbaring beberapa hari di rumah sakit tanpa bisa bergerak, tanpa kejelasan masa depan, bahkan pacarnya  meninggalkannya.

Namun, dengan kemauan dan tekad untuk terus hidup, Amiruddin, warga Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, kini hidup normal seakan belum pernah terkena stroke sama sekali. Amir, demikian dia biasa disapa, bisa sembuh relatif tanpa biaya besar, tanpa teknologi tinggi, bahkan dilakukan sendiri tanpa diketahui orang lain.

"Saya seakan tidak percaya bahwa kaki dan tangan kanan saya ini pernah tidak bisa digerakkan sama sekali," kata Amir riang.  

Saat ini, Amir hidup dengan cara yang sehat. Dia rajin berolahraga, tidur teratur, tidak merokok, dan sangat mengurangi makanan berlemak. Amir juga  sedang menyiapkan perkawinannya dengan seorang wanita yang diperkenalkan oleh seorang teman. Sisi sedih kisah Amir adalah pacarnya yang dulu meninggalkannya saat terserang stroke justru sudah meninggal terlebih dahulu. 

Khas manusia kota besar
Melihat masa lalunya, Amir adalah potret khas manusia kota besar zaman sekarang yang hidup seenaknya. Dia suka begadang menemani bosnya yang dipanggil Amir sebagai "Bapak".

Sehari-hari Amir merokok sampai tiga bungkus rokok keretek. Sementara makanan kesukaannya adalah goreng-gorengan selain tongseng kambing beberapa kali dalam seminggu. Hampir tidak pernah berolahraga, selalu tidur larut malam menyaksikan aneka DVD koleksinya, lengkap sudah gaya hidup tidak sehatnya. 

Tekanan darah Amir selalu tinggi, terbukti dalam setiap tes yang iseng-iseng dilakukannya di mal dengan membayar Rp 20.000. Tingginya tekanan darah Amir ini memang dari faktor keturunan karena menurut pengakuannya, kedua orangtuanya mempunyai tekanan darah tinggi.

Suatu hari tahun 2010, saat mengantarkan Bapak meliput ke kawasan Puncak, Jawa Barat, tiba-tiba Amir merasakan keanehan di badan. Kaki kanan dan tangan kanannya terasa dingin. Mendadak dia meminta Bapak menggantikan mengemudikan mobil. Saat kendaraan menjelang memasuki jalan tol Ciawi-Jakarta itulah Amir terserang stroke. Dia mengeluh panjang sehingga Bapak dengan panik berusaha memacu kendaraan mencari rumah sakit terdekat.  

Bapak yang punya pengalaman melakukan salah penanganan pada rekannya yang terkena stroke sehingga rekannya itu mengalami pecah pembuluh darah di kepala khawatir akan melakukan kesalahan yang sama. Amir pun dibaringkan di mobil. Namun, malang tak bisa dicegah, untung tak bisa diraih. Saat itu jalan tol macet total. Perjalanan ke rumah sakit terdekat akhirnya hanya bisa membawa Amir ke sebuah praktik dokter.  

Dari rumah dokter itu, datang sepupu Amir yang lalu membawanya ke sebuah rumah sakit di Kemayoran, beberapa jam kemudian.

Amir dalam dilema. Dia merasa putus asa. Dia tahu bahwa biaya perawatan sangat mahal, sementara dia tidak punya tabungan, juga bosnya bukanlah orang yang berkelebihan uang. Pacar Amir yang tidak kunjung menjenguk menambah kegundahannya. Belakangan, dari seorang teman yang menjenguk. Amir baru tahu bahwa pacarnya itu meninggalkannya karena merasa tidak punya masa depan dengan pria yang sudah terkena stroke sampai lumpuh separuh badan.

Tiap malam, selama di rumah sakit, Amir merasakan dia sudah tak punya harapan untuk menatap masa depan. "Keluar dari rumah sakit pun sudah bagus kalau tanpa utang. Setelah itu saya kerja apa? Tetap menjadi sopir? Mana bisa?" papar Amir, pekan lalu, saat diminta bercerita tentang cara kesembuhannya yang cukup mengherankan. 

"Di titik-titik tertentu, saya ingin bunuh diri. Untunglah sarana untuk bunuh diri, yaitu pisau, atau tali untuk gantung diri, atau racun, tidak bisa saya dapatkan waktu itu," kata Amir pedih.

Setelah dirawat sekitar seminggu di rumah sakit atas permintaan sendiri, Amir keluar dari rumah sakit. Adik kandungnya yang tinggal di Bekasi mengajaknya pindah ke pinggir Jakarta itu karena di Cempaka Baru, Amir hanya tinggal dengan bibinya yang juga sudah tua. 

"Walau adik Amir juga bekerja bersama suaminya kalau siang, setidaknya di Bekasi saya tidak merepotkan bibi yang sudah tua di Cempaka Baru," kata Amir.

Bangkit
Di titik ini, tiba-tiba semangat Amir timbul. Keinginan untuk tidak terus menjadi tanggungan sang adik membuat Amir bertekad sembuh.

"Saya harus sembuh, saya harus sembuh, saya harus sembuh, begitu kata yang saya ulang-ulang terus untuk menyemangati diri. Kemampuan saya hanya menjadi pengemudi, maka tangan dan kaki saya harus pulih," papar Amir.  

Seminggu sekali dia mendatangi seorang tukang pijit di Bekasi untuk mengurut kaki dan tangannya yang tidak bisa digerakkan. Setiap hari Amir menyugesti diri bahwa tangan kanan dan kaki kanannya sudah bisa bergerak. 

"Tiap bangun tidur, saya selalu berusaha bergerak seakan saya masih normal seperti beberapa bulan sebelumnya. Saya selalu menyugesti badan saya bahwa semuanya normal," kata Amir.

Kira-kira delapan bulan setelah terkena stroke, kaki kanan dan tangan kanan Amir mulai bisa digerakkan. Dia mulai bisa berjalan walau tertatih-tatih.  

Dengan tekad baru untuk bisa hidup normal kembali, Amir lalu meninggalkan Bekasi dan kembali ke rumahnya di Cempaka Baru. Dia mulai hidup normalnya seperti dulu, yaitu pagi mencuci mobil si Bapak yang memang tidak mencari pengemudi baru.

Karena belum  berani mengemudi akibat kaki kanannya yang belum bisa menginjak pedal gas dengan baik. Amir hanya diperbolehkan ikut pergi kemana pun bersama Bapak. Bedanya, Amir duduk di kursi penumpang.  

Saat mobil sedang parkir, Amir diam-diam mencoba memaju-mundurkan mobil. " Cukup sulit karena yang invalid adalah kaki kanan saya sementara kemudi utama mobil adalah pedal gas yang ada di kaki kanan pula," papar Amir.

Waktu tidak terasa berlalu, sampai suatu hari pada tahun 2011, si Bapak menantangnya: "Berani mengemudi?" Amir, mengiyakan. Dan, saat itulah sebenarnya Amir sudah "normal" kembali.

Saat pertama kali mengemudikan mobil setelah istirahat lama akibat stroke, Amir memang merasa gamang. Tetapi, kemauannya untuk melawan stroke mengalahkan semua kegamangannya.  

Kini Amir sudah pulih total. Dia juga manusia sehat yang rajin makan sayuran, rajin bersepeda, dan sudah menjauhi rokok secara total. "Rokok membuat pembuluh darah kurang elastis. Kalau dulu saya bukan perokok berat, mungkin saya belum kena serangan stroke," kata Amir menirukan kata-kata dokter yang pernah merawatnya. 

Pesan Amir kepada siapa pun yang pernah terserang stroke: "Jangan putus asa. Tekad bisa mengatasi banyak hal. Saya setidaknya  salah satu bukti untuk itu." (ARBAIN RAMBEY)

1 dari 4 Penduduk Menderita Hipertensi

Sebanyak 75,8 % penderita hipertensi di Indonesiaa belum terjangkau pelayanan kesehatan. Bahkan 50% dari para penderita tidak menyadari dirinya mengidap penyakit itu.

PENYAKIT hipertensi (tekanan darah tinggi) masih menjadi masalah serius di Indoensia saat ini. Sebanyak 26,5 % penduduk atau 1 dari 4 orang menderita hipertensi. Bahkan pada usia 65 tahun ke atas prevalensinya 1 dari 2 orang. 

Akibatnya, masyarakat dan pemerintah harus menanggung beban ekonomi mencapai Rp 5 triliun hanya untuk rawat jalan enam bulan pertama di rumah sakit. Ironisnya, 50% penderita tidak mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi.

"Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahaya hipertensi merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya penyakit the silent killer itu. apa lagi penayakit ini tanpa gejala," kata Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia dr Nani Hersunarti SpJP, FIHA, pada temu wartawan sebelum dimulainya Kongres Hipertensi Asia Pasifik ke-11 di Convention Center Nusa Dua , Bali, kemarin.

Menurut Nani, banyak penderita hipertensi yang datang berobat sudah dengan komplikasi. Sebabnya, tekanan darah tinggi bisa mengakibatkan penyakit katastropik (bencana), seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. 

Lebih lanjut, Nani mengutip Data riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, kasus hipetensi yang sudah minum obat masih rendah, yakni 24,2%. Itu artinya, sebagian besar (75,8%) penderita belum terjangkau pelayanan kesehatan. "Ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hipertensi guna menghindari komplikasi. Apalagi di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini perlu adanya input pada tata laksana hipertensi supaya penanganannya lebih optimal," tambah ahli jantung itu lagi.  

Pada pertemuan internasional yang dihadiri 1.500 dokter dari 21 negara, antara lain Singapura, Thailand, dan Australia, itu tampil pembicara dari dalam dan luar negeri seperti pakar dari Inggris, Taiwan, Australia, Amerika, dan Jerman. Para dokter yang hadir umumnya terkait dengan komplikasi penyakit, yakni ahli saraf, jantung, dan ginjal.

Pada konferensi yang mengambil tema Keberhasilan pendendalian hipertensi akan menurunkan komplikasi stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Arieska Ann Soenarta menuturkan, penyebab lain hipertensi ialah kebiasaan orang Indonesia mengonsumsi garam lebih dari 5 gram/hari. Adapun yang dianjurkan, tidak lebih dari 2 gram (1/2 sendok teh/hari) untuk penderita hipertensi. Bagi yang normal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan 2,5 gr per hari.  

"Garam jelek untuk tekanan darah ke jantung karena pembuluh darah akan menebal, sel-sel otot juga membesar. Jadi semakin tinggi konsumsi garam, kemungkinan sakit jantung juga semakin tinggi," tandasnya.

Risiko meningkatnay kematian akibat konusmsi garam yang tinggi juga terjadi di negara-negara Uni Eropa. Penanganan di luar negeri, lanjutnya, bahkan menyasar restoran, dengan tidak dibenarkan lagi menyediakan garam di atas meja atau tiap masakan mulai mengurangi kadar garam.  

Dokter spesialis saraf Yuda Turana mengatakan hipertensi tidak hanya terkait dengan stroke, tetapi juga kepikunan. (Ros/X-8)

puput@mediaindonesia.com

Hipertensi
Suatu keadaan tekanaan darah di pembuluh darah yang meningkat secara kronis.

Kriteria hipertensi:
Hasil pengukuran tekanan darah sistolik = 140 mmHg atau tekanan darah diastolik = 90 mmHg.

Rata-rata prevalensi hipertensi di Indonesia 25,8%

Pensiun Dini Tingkatkan Risiko Stroke

Kehilangan pekerjaan selalu merupakan pengalaman yang cukup menekan. Namun, bagi  yang sudah mendekati usia pensiun, kehilangan pekerjaan juga buruk bagi kesehatan mereka. Begitu isyarat yang terbaca dari hasil sebuah penelitian yang dilaporkan dalam American Journal of Industrial Medicine, Mei 2004.

Dikatakan, orang yang kehilangan pekerjaan pada saat mendekati usia pensiun, berkemungkinan dua kali lebih besar untuk mendapatkan serangan stroke dibanding rekan seusia yang tidak kehilangan pekerjaan. “Pengkajian kami meyakini bahwa kehilangan pekerjaan bagi karyawan yang mendekati usia pensiun merupakan titik penting yang berefek negatif bagi kesehatan, termasuk meningkatnya risiko stroke, ”ungkap Dr. William T. Gallo dari Yale University School of Medicine di New Haven, Connecticut, AS.

Ini bukan hasil pertama Dr. Gallo membeberkan pengaruh buruk kehilangan pekerjaan bagi kesehatan. Sebelumnya dia pernah melaporkan kaitan antara kehilangan pekerjaan dengan fungsi-fungsi  fisik dan peningkatan simtom depresi. Dia juga mencatat adanya sejumlah bukti yang memperlihatkan hubungan antara kehilangan pekerjaan dengan tumbuhnya depresi pada pasangan suami istri.

Pada pengkajiannya yang terakhir Dr. Gallo bersama timnya membandingkan 457 karyawan yang kehilangan pekerjaan dengan 3.763 karyawan yang tetap bekerja. Rata-rata usia orang yang dicermati itu berusia 55 tahun.

Selama enam tahun pengamatan diperoleh data, kemungkinan mereka yang kehilangan pekerjaan untuk terkena serangan jantung tidak meningkat. Meski begitu, kemungkinan mereka terserang stroke adalah dua kali lipat dibanding yang tidak kehilangan pekerjaan.

Dr. Gallo tidak menjelaskan bagaimana kehilangan pekerjaan bisa meningkatkan risiko stroke. Ia berspekulasi, kehilangan pekerjaan saat mendekati usia pensiun menimbulkan stres, kegelisahan, dan simtom-simtom depresi yang  bisa meningkatkan risiko stroke. @jjw

Friday, December 16, 2016

Waspada Bagi yang Suka “Mager”

Malas bergerak atau populer dengan istilah mager merupakan kebiasaan buruk yang harus dihindari. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Lily S. Sulistyowati mengatakan, kebiasaan malas bergerak memicu berbagai penyakit tidak menular.

“Mager itu salah satu faktor risiko penyakit. Gaya hidup anak-anak sekarang asyik dengan gadget, laptop, enggak pikir aktivitas fisik. Jadi yang aktivitas otaknya saja,” kata Lily dalam diskusi di Jakarta, Kamis (22/9).

Akibat mager, jumlah kalori yang masuk ke tubuh dan yang keluar tidak seimbang. Lama kelamaan akan terjadi kenaikan berat badan yang bisa menjadi obesitas.

Dalam jangka panjang penyakit jantung, stroke, hingga diabetes mengintai mereka yang malas bergerak.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, 42 persen penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun memiliki perilaku kurang bergerak atau kurang aktivitas fisik.

Bahkan, menurut Global Health Risk: Mortality and Burden Deases Attributable to Selected Major Risk dari World Health Organization (WHO), kurang aktivitas fisik merupakan peringkat keempat penyebab kematian.

Selain kurang bergerak, faktor risiko lain yang mengundang penyakit adalah kebiasaan merokok.
Menurut Lily, banyak anak merokok pada usia semakin muda, sehingga datangnya  penyakit pun jadi lebih cepat.

“Penyakit jantung misalnya, sekarang banyak yang terkena di usia muda, usia 15 sampai 24 tahun,” kata Lily.

Kebiasaan makan terbalik
Usia muda bukan berarti terbebas dari penyakit tidak menular. Justru kebiasaan hidup sehat harus dimulai dari usia muda.

Lily juga mengingatkan, pentingnya makan sayur dan buah. Berdasarkan data Riskesdas 93,5 penduduk Indonesia berusia di atas 30 tahun pun kurang makan buah dan sayur.

Menurut Lily, kebiasaan makan penduduk Indonesia seringkali terbalik, yaitu lebih banyak karbonhidrat, seperti nasi.

Seharusnya, dalam satu piring makan, 50 persen adalah sayuran atau buah-buahan, 25 persen protein, dan sisanya karbohidrat. (Kompas.com)

Tuesday, December 13, 2016

Teknologi Kedokteran. Operasi Tumor Otak ( Stroke Perdarahan, red) Bisa Tanpa Bedah

JAKARTA, KOMPAS – Dengan kemajuan teknologi saat ini, operasi tumor di otak (stroke perdarahan, red) bisa dilakukan tanpa pembedahan. Operasi tersebut bisa dilakukan menggunakan radiasi sinar gama dengan alat Gamma Knife Perfexion. Terapi ini dinilai lebih akurat, minimal efek samping, dan mempercepat pemulihan.

Direktur Gamma Knife Center Indonesia (GKCI) Lutfi Hendriansyah, Sabtu (2/4), di Jakarta, mengatakan, belum banyak pasien ataupun dokter yang  mengetahui operasi tumor di otak (stroke perdarahan, red) bisa dilakukan tanpa harus membedah dan membuka kepala. Padahal, teknologi itu sudah berkembang sejak akhir 1960-an.

Teknologi yang memanfaatkan radiasi sinar gama (Gamma Knife) prinsipnya memanfaatkan radiasi sinar gama untuk membunuh sel-sel tumor yang ada di otak (stroke perdarahan, red). Setelah memakai bingkai khusus di kepala, pasien akan berbaring dan masuk ke mesin yang di dalamnya ada 192 sumber sinar gama. Bingkai di kepala itu untuk menjamin presisi penyinaran pada target.

Terapi Gamma Knife bisa mengobati sejumlah titik tumor (area  stroke perdarahan otak, red) dalam sekali sesi operasi. Setelah menjalani operasi memakai Gamma Knife, pasien bisa langsung pulang tanpa harus dirawat untuk pemulihan. Setelah operasi, dokter akan memantau menyusut atau matinya sel kanker melalui pencitraan resonansi magnetik (MRI).

Tumor Ganas
Lutfi memaparkan, di negara maju mayoritas pasien yang memakai Gamma Knife adalah pasien tumor ganas (stroke perdarahan, red). Namun, data GKCI menunjukkan, 80 persen pasien tumor (pasien stroke, red) yang menggunakan Gamma Knife juga bisa digunakan mengobati, antara lain, malformasi arteriovenosa (AVM) atau malformasi pembuluh darah vena dan trigenial neuralgia (nyeri saraf trigeminal yang bertanggung jawab untuk sensasi di wajah).

Chief Operations Officer & Medical Physics Specialist GKCI Sajeev Thomas menambahkan sejak Juli 2014, sekitar 400 pasien menjalani operasi menggunakan Gamma Knife. Jumlah itu amat sedikit jika dibandingkan angka global, yakni 750.000 pasien. Ke depan pengguna teknologi itu diharapkan bertambah, termasuk pasien dari luar negeri.  “Alat ini bisa mengoperasi tanpa luka dan pasien bisa pulang dalam sehari,” ujarnya.

Jeffa Faidilah Djarot, pasien yang pernah menjalani terapi tesebut, menuturkan, sejak didiagnosis meningioma (tumor pada selaput yang menutup otak dan sumsum tulang belakang), Agustus 2015, ia berkonsultasi ke sejumlah dokter. Setiap dokter yang ditemui menyarankan agar ia dioperasi. “Saya takut setengah mati. Masak untuk mengeluarkan tumor 1,6 sentimeter dari otak, kepala saya harus dibuka, ”katanya.

Akhirnya, Jeffa mendapat dokter yang merekomendasikannya agar menjalani operasi tumor otak tanpa bedah menggunakan radiasi sinar gamma. Pada 11 Februari 2016, Jeffa menjalani operasi tanpa bedah dengan sinar gamma. Keesokan harinnya, Jeffa bisa pulang dan langsung beraktivitas seperti biasa. “Selama operasi, tak terasa apa-apa. Tahu-tahu saya dibangunkan dan diberitahu bahwa operasinya sudah selesai,” ujar Jeffa. (ADH)