KlinikStrokeNusantara.com

KLINIK STROKE NUSANTARA

Stroke bisa menyerang Anda, saya atau siapa saja secara mendadak, tanpa tanda-tanda atau gejala apa pun ! Waspadalah ! Berhati-hatilah !

Bilamana orang yang Anda cintai terserang stroke, bawalah ke rumah sakit dan minta paksa dirawat di ruang gawat darurat (UGD) atau Intensive Care Unit (ICU). Walaupun, pihak rumah sakit mengatakan cukup dirawat di ruang biasa. Paksa, tetap minta di ruang gawat darurat, agar segera ditangani secara intensif, sehingga kerusakan atau kelumpuhan yang terjadi bisa benar-benar minimal. (Karena banyak rumah sakit tidak tahu harus berbuat apa menghadapi pasien yang terkena stroke, jangan heran, kalau pasien hanya dibiarkan saja).

Setelah dirawat di UGD dan kondisinya stabil, segera hubungi Sinshe Hans di telepon (021) 5637475, 5637476 handphone/whatsapp 0819 3261 8088, 0813 1261 3636. Karena banyak pasien stroke bisa pulih lebih cepat setelah diterapi oleh kami, dibandingkan dengan terus dirawat di rumah sakit.

Pasien-pasien stroke yang dirawat di Klinik Stroke Nusantara, merasakan banyak kemajuan setiap selesai sekali diterapi. Diperlukan 3 sampai 8 kali terapi. Selama ini, hanya 1 (satu) pasien Stroke, seorang pendeta yang lumpuh total (2 kaki dan dua tangan nggak bisa digerakkan setelah operasi) diterapi sampai 9 kali.

Selain Klinik Stroke Nusantara, kami juga menjual dan menyewakan ranjang rumah sakit: ranjang-rumah-sakit.com; kursi roda: kursi-roda.com, sewakursiroda.com, kursirodabekas.com; tabung oksigen: tabungoksigen.net, sewatabungoksigen.com, tabungoksigenbekas.com; regulator oksigen: regulator-oksigen.com; selang ngt silicon: selangngt.com, selang oksigen: selang-oksigen.com; sarung tangan karet: sarungtangankaret.com; alat bantu jalan: alatbantujalan.com; perawat orang sakit: yayasanperawatindonesia.com; kasur decubitus: sewakasurdecubitus.com; suction pump: sewasuctionpump.com; selang NGT: selangNGT.com; urine bag: urine-bag.com dan alat kesehatan lainnya.

Untuk konsultasi & terapi, silakan hubungi
Sinshe Hans
di telepon (021) 5637475, 5637476 handphone/whatsapp 0819 3261 8088, dan 0813 1261 3636. (... Tarif jasa per sekali datang terapi ke rumah atau rumah sakit Rp. 400.000,- untuk wilayah Jakarta dan
Rp 450.000 untuk Tangerang, Depok, dan Bekasi)

Tuesday, March 28, 2017

Aktor Senior Rachmat Hidayat Meninggal

Rachmat Hidayat meninggal dunia di usia ke-83 tahun. Aktor senior itu meninggal akibat penyakit komplikasi yang dideritanya beberapa waktu terakhir. Rachmat mengembuskan napas terakhir di rumah Sakit Borromeus, Bandung, Minggu (14/6) pukul 04.30 WIB. Almarhum telah dikebumikan di pemakaman keluarga daerah Banjaran, Kabupaten Bandung di hari yang sama.

Aktor yang lahir pada 3 Juli 1933 itu rupanya telah sepuluh hari menjalani perawatan di rumah sakit Borromeus karena sakit stroke. Rachmat yang seharusnya dijadwalkan pulang di hari Minggu (14/6) ke rumah karena kondisinya mulai membaik, justru pulang ke pangkuan Sang Pencipta untuk selama-lamanya. 

Menurut kerabat dekat, Rachmat masuk rumah sakit lantaran mengalami sesak napas. "Masuk RS karena sesak napas. Terus dicek ke laboratorium ternyata ada sakit jantung juga," ungkap Arika, menantu Rachmat.

Diketahui dari Arika, sebelum meninggal, sang istri almarhum sempat merasakan sebuah firasat aneh, "Ibu mertua bilang kalau Bapak sebelum masuk rumah sakit panggil nama Olga. Katanya Olga manggil Bapak," imbuh Arika, seperti dikutip media online.

Sederet artis dan pejabat turut mengucapkan belasungkawa di rumah duka. termasuk Wali Kota Bandung Ridwal Kamil. Aktor senior yang pada tahun 2014 lalu meraih penghargaan piala Lifetime Achievement di IMA ini dikenal luas pergaulannya dan menjadi kebanggaan Kota Kembang.

Rachmat tercatat sebagai salah satu aktor besar Indonesia. Kariernya dimulai lewat film Toha, Pahlawan Bandung Selatan pada 1961. Sedangkan film terakhir yang dibintangi Rachmat berjudul Si Kabayan Cari Jodoh (1994).

Kemampuan akting Rachmat tak perlu diragukan. Sebagai bukti, aktor yang memiliki kumis khas ini telah menyabet sejumlah penghargaan bergengsi di Tanah Air. Rachmat meraih prestasi gemilang selama berkarier di industri perfilman. Dia pernah meraih Best Actor PWI Jaya (1971) lewat The Big Village (Dusun Besar). Selain itu, tiga piala citra telah diraihnya dalam Festival Film Indonesia, yakni Apa Salahku (1977), Pacar Ketinggalan Kereta (1989), dan Boss Carmad (1991).

Tak kurang 94 judul film telah dibintangi pria yang hobi mengendarai sepeda motor besar ini. Film-film Rachmat yang cukup terkenal di antaranya: Lewat Tengah Malam (1971), Ayah (1973), Bulan di Atas Kuburan (1973), Tangisan Ibu Tiri (1974), Petualangan Cilik (1977), Badai Pasti Belalu (1977), Kembang Semusim (1980), Lima Cewek Jagoan (1980), dan masih banyak lagi. 

Selain film, Racmat juga bermain di beberapa judul sinetron di tahun 1990-an, di antaranya Sahabat Pilihan dan Pondok Pak Jon. Rachmat tak hanya berlaga di depan layar. Kepeduliannya pada dunia sinema Indonesia mendorongnya terlibat organisasi Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi). Pada 1971, dia pernah menjabat sebagai Ketua Parfi Cabang Bandung selama dua periode. @Andy 

Tenaga Medis Kurang Tanggap

Selasa (22/3) sekitar pukul 15.00, ayah saya datang ke Instalasi Gawat Darurat RSUD Tangerang karena tiba-tiba sulit menelan dan lengan kanannya lemas. Ia curiga itu tanda-tanda stroke, yang pernah dua kali menyerangnya. 

Namun, dokter jaga justru menyuruh ayah saya pulang karena kondisinya dianggap tidak gawat dan saat itu tak ada dokter spesialis saraf. Ayah juga disarankan berkonsultasi dengan dokter saraf di rumah sakit swasta saja.

Di rumah, kondisi ayah makin parah. Ia sama sekali tidak bisa  minum dan menelan makanan. Lengannya makin lemah. Ia kembali diantar ke IGD RSUD Tangerang. Namun, sejak tiba pukul 19.30 hingga, saya menyusul tiga jam kemudian, tidak ada tindakan. Setahu saya pasien stroke sebaiknya ditangani sebelum enam jam sejak serangan.

Alasan belum adanya tindakan karena dokter belum mengecek statusnya. Setelah didesak, baru dokter mengecek status ayah saya, yang diteruskan perawat dengan memberi infus, merekam jantung (elektrokardiogram, EKG), cek laboratorium, dan CT (Computerized Tomography) scan.

Namun, setelah itu ayah saya diminta lagi menunggu dokter penanggung jawab ruangan, yang hingga pukul 06.00 tidak dapat dihubungi. Ayah harus menunggu lagi untuk mendapatkan obat dan pindah ke kamar perawatan.

Akibat penanganan yang bertele-tele, kondisi ayah makin buruk. Atas saran dokter spesialis saraf, kami memindahkan ayah ke RS swasta untuk mendapat tindakan Digital Substraction Angiography (DSA), untuk melihat kondisi pembuluh darah di otak. Menurut dokter yang menangani ayah di RS ini, jika ditangani dalam 4,5 jam pertama setelah serangan stroke, kondisinya mungkin tidak seburuk ini.

Saya sangat kecewa kepada RSUD Tangerang dan para petugas medisnya dalam melayani, terutama  peserta BPJS Kesehatan. Mengapa mereka tidak peduli kepada pasien yang memercayakan nyawanya kepada  mereka? Padahal, di dinding IGD terpampang moto RSUD Tangerang: "Memberikan Pelayanan Melebihi Harapan Pelanggan".

Amanda
Jl. Akasia Kota Bumi, Pasar Kemis, Tangerang  

Monday, March 27, 2017

Merawat Ibu di Rumah

Pertanyaan oleh M di B
Ibu saya berumur 72 tahun sejak tiga bulan ini kami rawat di rumah. Sebelumnya ibu saya baru selesai perawatan di rumah sakit karena  stroke. Ayah sudah meninggal lima tahun lalu dan sejak itu ibu tinggal serumah dengan kami sekeluarga, yaitu dengan suami saya dan dua anak saya yang masih remaja. Ibu cukup lama dirawat di rumah sakit karena, selain stroke, ibu saya juga terserang pneumonia. Justru perawatan dilakukan terutama  terhadap penyakit pneumonia yang dimiliki ibu. Untunglah pneumonianya dapat diatasi dan beliau dapat tetap dirawat di ruang biasa. Meski demikian, ibu tidak betah dirawat di rumah sakit. Ibu hanya dapat bicara sedikit dan selalu yang dikatakannya adalah keinginan untuk pulang.

Kami berunding dengan dokter yang merawat dan akhirnya ibu diizinkan untuk dirawat di rumah. Namun, sebenarnya ibu harus tetap dipantau. Karena itu, seminggu sekali dokter dan perawat berkunjung ke rumah. Kunjungan dilakukan oleh tim home care rumah sakit. Saya baru mengetahui ada layanan home care. Dan ternyata sangat bermanfaat bagi kami. Saya dan suami masih bekerja. Karena itu, kami mempekerjakan petugas pendamping orang sakit untuk ibu saya dari pukul 08.00 sampai 17.00. Selama petugas pendamping rumah sakit tidak ada, saya dan anak-anak yang akan mengurus kepentingan ibu. Ibu harus dimandikan di tempat tidur karena hanya mampu tiduran di tempat tidur. Harus sering dimiringkan ke kanan dan ke kiri. Makan dan minumnya harus dibantu. Sudah tentu obat-obatan harus diberikan pada waktunya.

Seluruh hasil pemeriksaan dicatat sehingga pada kunjungan tim home care akan dievaluasi secara bertahap. Dokter tim home care juga meminta pemeriksaan laboratorium yang diperlukan. Sekarang pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan di rumah.

Kami merasa bersyukur dengan adanya layanan ini. Apakah semua rumah sakit sudah mempunyai layanan home care? Ibu saya berstatus pensiunan pegawai negeri sehingga untuk pembayaran berobat di rumah sakit dapat menggunakan fasilitas BPJS. Namun, sampai sekarang saya belum dapat menggunakan fasilitas BPJS  untuk layanan di rumah, terutama untuk kunjungan tim home care.

Jawaban oleh Samsuridjal Djauzi
Sekarang memang masa tinggal (length of stay) di rumah sakit diusahakan menjadi singkat. Bahkan, masa tinggal tersebut menjadi salah satu tolok ukur mutu layanan rumah sakit. Namun, penderita penyakit kronik memang cenderung memerlukan perawatan lebih lama. Seperti yang ibu alami, maka dewasa ini telah ada layanan kunjungan ke rumah dari tim home care rumah sakit. Memang belum semua rumah sakit  mempunyai layanan ini, tetapi semakin lama layanan ini semakin banyak. Rumah sakit menyadari  perawatan yang lama di rumah sakit, selain dari segi ekonomi lebih mahal, risiko untuk terkena infeksi nosokomial (infeksi yang terjadi di rumah sakit) juga meningkat. Karena itu, layanan kunjungan perawatan di rumah semakin ditingkatkan.

Pemantauan pasien, jika diperlukan, juga dapat dilakukan oleh rumah sakit melalui kunjungan ke rumah. Di negara maju, pemantauan perawatan di rumah dapat dilakukan oleh pelayanan primer, dokter puskesmas, ataupun dokter praktik. Sudah tentu perlu koordinasi yang baik dengan rumah sakit. Keuntungan dengan melibatkan layanan kesehatan primer adalah biasanya upaya pencegahan juga dapat dimasukkan dalam pelayanan rumah dan jarak layanan primer ke rumah penderita lebih dekat, sehingga biaya pun jauh lebih murah.

Layanan perawatan di luar rumah sakit pada umumnya lebih disukai oleh pasien dan keluarga. Pasien merasa lebih nyaman di tengah keluarga bahkan mungkin di kamar tidurnya sendiri. Keluarga juga tak repot harus setiap hari berkunjung. Sudah tentu dengan adanya orang sakit yang dirawat di rumah keluarga harus menyiapkan dan menyesuaikan diri. Apalagi perawatan di rumah sering memakan waktu lama. Anak-anak, pembantu, dan keluarga lain harus disiapkan dan dilibatkan dalam perawatan.

Dengan teknologi komunikasi saat ini, keadaan pasien, misalnya terjadi kulit yang kemerahan, dapat difoto dengan telepon genggam lalu dikirim ke dokter. Begitu pula nasihat dokter dapat terekam dengan baik apalagi jika dikirim melalui pesan singkat atau cara pengiriman lainnya. Sudah tentu perawatan di rumah juga menghadapi berbagai tantangan.

Stroberi

GANGGUAN PENYAKIT
Stroke merupakan serangan pada otak yang terjadi akibat pecahnya pembuluh  darah di otak atau terhambatnya aliran darah menuju otak karena pembuluh darah menyempit. Penyempitan  ini disebabkan oleh penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah.

KHASIAT DAN PENGGUNAAN
Stroberi mengandung pektin yang dapat mengikat kolesterol agat tidak sempat terserap oleh usus  dan masuk ke dalam aliran darah. Dengan demikian dapat mencegah  penyumbatan pembuluh arteri yang menjadi serangan stroke. Stroberi  dapat disantap segar atau dibuat jus bila Anda tidak terbiasa dengan rasa asam pada stoberi segar.

Makanan dan Otak

PENELITIAN terbaru mengungkapkan bahwa mengonsumsi makanan sehat membuat otak lebih cemerlang di masa tua. Penelitian tersebut dilakukan US National Institute of Neurological Disorders and Stroke dengan melibatkan 28 ribu peserta yang berusia di atas 55 tahun.

Dalam studi itu, tim peneliti yang dipimpin Dr Andrew Smyth mengawasi menu makanan peserta selama lima tahun berturut-turut. Peserta juga diminta  mengungkapkan seberapa sering mereka makan makanan tertentu, termasuk sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, daging, dan makanan gorengan. Mereka juga diminta melaporkan tingkat asupan alkohol. Setelah  itu, peneliti melakukan tes cara berpikir dan ingatan peserta.

Hasilnya, 5.687 peserta yang mengonsumsi  makanan sehat  mengalami penurunan kognitif 13% dan 5.459 peserta yang mengonsumsi  makanan yang tidak sehat  mengalami penurunan kognitif hingga 20%. (Medicalnewstoday/Pra/X-5)

Kenali Gejala Awal Stroke

Stroke, menurut Dr Hermawan Suryadi, SpS, merupakan penyebab kematian ketiga setelah penyakit jantung dan kanker. “Stroke juga penyebab utama kecacatan. ”Padahal,  stroke sebetulnya dapat dicegah dan diobati. Pengobatan segera dapat menghindari dari kematian dan   mempercepat pemulihan dari kecacatan akibat kerusakan otak yang terjadi saat serangan stroke.

Nah, langkah pencegahan terbaik adalah mewaspadai gejala awal stroke. Yang jelas, segera ke dokter bila ada salah satu tanda di bawah ini:

Pertama. Mendadak  bicara pelo. Kedua. Mendadak lemas separuh tubuh. Ketiga. Mendadak kesemutan separuh tubuh atau sekitar mulut. Keempat. Mendadak hilang keseimbangan atau merasa pusing berputar (vertigo). Kelima. Mengalami nyeri kepala hebat. Apalagi bila disertai mual dan muntah. Keenam.  Penglihatan kabur atau gelap pada satu mata atau penglihatan menjadi ganda, atau tidak dapat melihat sisi kiri / kanan. Ketujuh. Mendadak susah berpikir atau tidak mampu mengingat sementara. Kedelapan.   Pendengaran mendadak hilang. Apalagi disertai kuping berdenging dan vertigo. Kesembilan. Mulut mendadak  miring atau terasa baal (tebal) pada separuh wajah. HASTO

Suara Bising Penyebab Darah Tinggi

Tinggal di dekat jalan yang sibuk mungkin memberi sumbangan pada tekanan darah tinggi, demikian hasil satu studi yang disiarkan Ahad.

Orang yang rumahnya berada “sejengkal” dari gemuruh suara mesin, lengking bunyi klakson dan denyit suara rem memiliki risiko yang bertambah besar untuk terserang tekanan darah tinggi, kata studi tersebut, yang disiarkan di dalam “Environmental Health” terbitan September yang beredar di Amerika Serikat.

Untuk memastikan berapa banyak suara lalu-lintas yang dapat ditanggung orang dengan dasar rutin, para peneliti dari Lund University Hospital  di Swedia menganalisis  data dari hampir 28.000 orang yang ditanyai mengenai pengaturan tempat tinggal orang di Scania, satu provinsi di Swedia Selatan.

Mereka mendapati bahwa orang yang masih muda dan berusia setengah baya yang tinggal di rumah yang terpajan terhadap suara berisik lalu lintas di atas 60 desibel lebih mungkin untuk terserang tekanan darah tinggi, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan stroke dan penyakit pembuluh darah dan jantung. Hubungan dengan tekanan darah tinggi bertambah kuat saat tingkat desibel naik.

Di antara orang yang lebih tua, yang berusia 60 sampai 90 tahun, tingkat desibel yang lebih tinggi tak berkaitan dengan peningkatan tekanan darah tinggi. Salah satu alasan bagi temuan tersebut boleh jadi adalah orang yang lebih muda memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terserang tekanan darah tinggi, sehingga dampak dari kebisingan lalu lintas lebih nyata.

“Dampak suara berisik mungkin menjadi tak terlalu penting, atau lebih sulit untuk dideteksi, berkaitan dengan faktor risiko lain dengan bertambahnya usia,“ kata penulis studi tersebut Theo Bodin. “pilihan yang  mungkin ialah gangguan suara berisik beragam pada usia manusia.”

Sebanyak 30 persen orang Eropa tinggal di berbagai daerah tempat rata-rata suara bising lalu-lintas ialah 55 desibel atau lebih tinggi, kata para peneliti itu. “Lalu-lintas di jalan adalah sumber yang paling penting bagi suara berisik di masyarakat,” kata Bodin. (ant/sys)

Penyakit Tak Menular Jadi Perhatian Dunia

SINGAPURA, KOMPAS – Melonjak tajamnya berbagai penyakit tidak menular menjadi masalah besar di sejumlah negara. Salah satu upaya untuk menekannya adalah menciptakan generasi yang tidak rentan melalui gizi seimbang.

Hal itu mengemuka dalam pembukaan Kongres International Society for Developmental Origins of Health and Disease (DOHaD) ke-8, Minggu (17/11), di Singapura, sebagaimana dilaporkan wartawan Kompas Yulianus Harjono. Forum yang membahas mengenai pentingnya kesehatan  di awal kehidupan (ibu hamil, janin, dan anak) ini diikuti ratusan dokter, akademisi, dan praktisi multi bidang dari sejumlah negara.

Presiden DOHaD Mark Hanson dalam pembukaan mengemukakan, upaya menekan penyakit tidak menular (PTM) harus dilakukan dengan perubahan pola hidup. Salah satunya, menekankan pentingnya nutrisi bagi janin dan bayi.

“Upaya mencegah berbagai penyakit tak menular dimulai dari kesehatan ibu, termasuk kehamilan dan setelah persalinan, memberi nutrisi yang baik bagi bayi, termasuk promosi ASI,” katanya mengutip Rencana Aksi Global Menekan PTM 2013-2020.

Konferensi Tingkat Tinggi PBB 2011 membahas khusus isu PTM. Tiap tahun, PTM seperti diabetes, gangguan jantung, dan stroke membunuh 9 juta orang di dunia. Secara epidemiologis, Ronald Ma, Guru Besar Medis dan Terapeutik di Chinese University of Hongkong, mengatakan, bobot kelahiran bayi terkait dengan munculnya risiko PTM, seperti jantung koroner, diabetes, stroke, dan osteoporosis di usia dewasa. Kondisi ini terjadi jika glukosa dan protein yang ditransfer ibu ke janin berlebih atau kurang.

Menurut Eline van Der Beek, Direktur Pusat Riset Nutrisi Danone Nutricia di Singapura, janin dan bayi merupakan tahap krusial dalam perjalanan manusia. Di masa itu, manusia mengalami pertumbuhan cepat dan kompleks, baik pada sel otak, jaringan tubuh, maupun sistem kekebalan. Untuk itu, diperlukan zat gizi berkualitas, termasuk omega-6.

Di forum ini, Pusat Riset dan Penelitian Danone Nutricia memublikasikan hasil riset yang mengungkapkan kurangnya nutrisi pada ibu hamil di Indonesia. Riset dilakukan terhadap 203 ibu hamil dan menyusui. “Separuh ibu hamil ternyata kurang nutrisi karena persoalan sosial ekonomi, “ Kata Jacques Bindels, Direktur Sains Pusat Riset dan Penelitian Danone Nutricia Asia Pasifik.

Selain rentan terhadap PTM di Usia dewasa, bayi yang terlahir dalam kondisi kurang nutrisi mudah sakit  serta berisiko lahir dengan komplikasi, seperti cacat, gizi buruk, dan lainnya.


Kraisid  Tontisirin, praktisi kesehatan dari  Thailand, menekankan pentingnya peran pengambil kebijakan dan masyarakat menyosialisasikan pentingnya gizi. 

Sering Sakit Kepala, Bisa Pertanda Tumor Otak

MESKIPUN terkesan sepele, sakit kepala tidak boleh dianggap remeh. Kadang gangguan tersebut menandakan adanya gangguan berat di area kepala. Seperti adanya tumor, kanker, stroke, maupun infeksi pada organ-organ dalam kepala.

Spesialis saraf Rumah sakit Pantai Indah Kapuk dr Yuda Turana mengungkapkan beberapa ciri sakit kepala yang perlu diwaspadai, yaitu: Bersifat kronik dan progresif. Artinya, sakit kepala berlangsung lama  dari waktu ke waktu intensitasnya semakin berat.  Sakit kepala akut (terjadi mendadak) dengan nyeri yang hebat. Disertai gejala klinis neurologis misalnya, lemah sebelah badan, menurunnya kemampuan untuk berjalan atau bergerak, kesemutan, penglihatan menjadi berbayang atau kabur.   Disertai gangguan perilaku/kebiasaan. Misalnya, menjadi tidak sopan, pelupa, dan sering berhalusinasi. Yuda mengingatkan bila seseorang mengalami gejala-gejala sakit kepala tersebut, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sehingga diketahui gangguan yang menyebabkan sakit kepala sekunder tersebut. Pemeriksaan lanjutan itu antara lain berupa pemeriksaan dengan sinar rontgen, magnetic resonance imaging (MRI), computer tomography (CT) scan, atau pemeriksaan laboratorium terhadap cairan otak. “Pemeriksaan berfungsi untuk memastikan adanya kelainan atau gangguan seperti tumor, keganasan, atau infeksi di rongga kepala. Dengan demikian, dapat dilakukan penanganan lebih lanjut yang tepat untuk mengatasinya,” kata Yuda. (Nik/S-6)

Khasiat Buah Kurma bagi Kesehatan

KURMA diketahui banyak manfaatnya untuk kesehatan. Berikut beberapa khasiat buah kurma yang perlu Anda ketahui.

* Kurma dapat mengurangi risiko terkena kanker dan penyakit jantung.

* Buah kurma kaya serat yang mencegah penyerapan kolesterol LDL (kolesterol  jahat) dalam usus. Kandungan serat kurma juga membantu melindungi  selaput lendir usus dengan mengurangi paparan dan mengikat bahan kimia yang menyebabkan kanker usus besar.

*  Kurma adalah sumber vitamin A, yang dikenal memiliki sifat antioksidan dan sangat penting untuk kesehatan mata. Vitamin A juga diperlukan menjaga kulit tetap sehat. Konsumsi buah-buahan alami yang kaya akan vitamin A diketahui membantu melindungi dari kanker paru-paru dan rongga mulut.

* Kurma merupakan sumber zat besi yang sangat baik. Zat besi adalah komponen dari hemoglobin di dalam sel darah merah yang menentukan daya dukung oksigen darah.

* Kalium dalam kurma, membantu mengendalikan denyut jantung dan tekanann darah, sehingga memberikan perlindungan terhadap penyakit jantung koroner dan stroke.

* Kurma kaya akan vitamin K dan vitamin B-kompleks, yaitu piridoksin (vitamin B-6), niasin, asam pantotenat dan riboflavin. Vitamin ini membantu tubuh dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Vitamin K sangat penting dalam pembekuan darah dan metabolisme tulang. (embun/rf)
KURMA diketahui banyak manfaatnya untuk kesehatan. Berikut beberapa khasiat buah kurma yang perlu Anda ketahui.
* Kurma dapat mengurangi risiko terkena kanker dan penyakit jantung.
* Buah kurma kaya serat yang mencegah penyerapan kolesterol LDL (kolesterol  jahat) dalam usus. Kandungan serat kurma juga membantu melindungi  selaput lendir usus dengan mengurangi paparan dan mengikat bahan kimia yang menyebabkan kanker usus besar.
*  Kurma adalah sumber vitamin A, yang dikenal memiliki sifat antioksidan dan sangat penting untuk kesehatan mata. Vitamin A juga diperlukan menjaga kulit tetap sehat. Konsumsi buah-buahan alami yang kaya akan vitamin A diketahui membantu melindungi dari kanker paru-paru dan rongga mulut.
* Kurma merupakan sumber zat besi yang sangat baik. Zat besi adalah komponen dari hemoglobin di dalam sel darah merah yang menentukan daya dukung oksigen darah.
* Kalium dalam kurma, membantu mengendalikan denyut jantung dan tekanann darah, sehingga memberikan perlindungann terhadap penyakit jantung koroner dan stroke.
* Kurma kaya akan vitamin K dan vitamin B-kompleks, yaitu piridoksin (vitamin B-6), niacin, asam pantotenat dan riboflavin. Vitamin ini membantu tubuh dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Vitamin K sangat penting dalam pembekuan darah dan metabolisme tulang. (embun/rf)

Aktivitas Seksual Pasien Pascastroke

Usia suami saya 58 tahun dan baru-baru ini menderita stroke,” keluh Dewi, bukan nama sebenarnya. Kepada seorang dokter. Selanjutnya, dia mengatakan tangan suaminya sulit digerakkan. Selain itu, suaminya mengalami kesulitan bicara. Tetapi kata Dewi, suaminya masih mampu ereksi, meskipun tidak bisa ejakulasi.
Hal yang sama dialami Susi. Awalnya, suami Susi memiliki gairah seks yang baik. Namun, sejak dua tahun lalu, kemesraan dan kebahagiaan itu sirna, karena sang suami terserang stroke. “Suami saya sekarang tidak pernah ‘menyentuh’ saya lagi,” kata Susi.

Dia pun membawa suaminya ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan dan terapi. “Tetapi sampai sekarang masih belum bisa berhubungan,” katanya dengan raut muka muram.

Apakah stroke berarti penderitaan segala-galanya dan termasuk merampas hak penderita dalam berhubungan seks.

Prof dr Bob Santoso Wibowo Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjelaskan stroke merupakan suatu keadaan terdapatnya gangguan aliran darah ke otak. Baik itu berupa penyumbatan maupun perdarahan. Pada keadaan pascastroke atau dalam fase penyembuhan diperlukan penyesuaian diri yang sangat  besar. “Bukan hanya dari penderita sendiri, tetapi juga dari pasangannya,” katanya.

Tidak bisa disangkal, kata spesialis saraf itu, stroke memang dapat mengganggu fungsi seksual termasuk pula hasrat (desire) seksual. Tidaklah heran kalau penderita stroke, baik pria ataupun wanita, merasa ragu untuk melakukan hubungan seks. Alasannya mereka merasa takut kalau hubungan seks akan menyebabkan serangan kembali stroke. “Sebanyak 50% penderita stroke terutama wanita mengalami penurunan hasrat seksualnya,” kata Bob.

Tetapi sebenarnya penderita pascastroke masih memiliki hasrat seksual dan tetap bisa melakukan hubungan seks. Hanya masalahnya terletak pada pelaksanaannya.

Bob mengatakan banyak penderita pascastroke mengalami gangguan dan dorongan fungsi seksual, karena faktor psikologis.

Masalah lain yang dihadapi pascastroke adalah melakukan hubungan seks dengan posisi yang biasanya menyenangkan menjadi sulit atau tidak mungkin. “Ketidaktahuan itulah menyebabkan penderita stroke sering putus asa dan menganggap hubungan seks sebagai hal yang tidak mungkin dilakukan.”

Padahal, lanjutnya, penderita stroke masih bisa melakukan hubungan suami-istri. Caranya, perlu penyesuaian dan eksperimen posisi mana yang terbaik. Bob mengatakan, terdapat banyak posisi hubungan seks yang bisa dilakukan pasangan yang salah satunya menderita pascastroke. Misalnya, penderita pascastroke harus mengatur posisi sendiri.

Bahkan dalam berhubungan seks terutama bagi yang pasangan menderita stroke harus memegang pepatah: “Seks tidak selalu berarti hubungan seks (sex doesn’t  necessarily equal intercourse),” katanya. 

Sementara itu, dokter ahli saraf Sutarto menawarkan tips bagaimana sebaiknya para penderita seks memperbaiki hubungan seks tiga jam setelah makan, dilakukan di pagi hari, namun diingatkan saat melakukan jangan terlalu lelah. (Drd/H-1)

Friday, March 17, 2017

Kenali Penyebab Gangguan Irama Jantung

GANGGUAN irama jantung atau yang dikenal dengan fibrilasi atrium dapat dipicu oleh  beberapa faktor di antaranya hipertensi, jantung koroner, kelainan katup jantung, dan berbagai jenis infeksi berat. Hipertensi merupakan salah satu penyebab yang paling sering dijumpai.

Pasien dengan gangguan irama jantung umumnya akan merasa mudah lelah, lemas, jantung berdebar, sesak, dan pingsan. Gangguan pada organ pemompa darah itu bahkan bisa menyebabkan penderita meninggal.

“Itu gejala umumnya, setiap pasien akan beragam gejalanya, tergantung kondisi fisik mereka. Semakin lemah akan semakin terasa,” ujar Daniel Tanubudi, dokter spesialis jantung di RS Eka Hospital, Tangerang, saat ditemui khusus oleh Media Indonesia beberapa waktu lalu.

Meskipun tak sebahaya serangan jantung koroner yang bisa menyebabkan kematian mendadak, gangguan irama jantung juga bisa menyebabkan efek yang berat. “Setiap orang berisiko, tapi orang dengan faktor risiko penyakit tersebut lebih rentan.”

Dijelaskan Daniel, denyut jantung yang tidak teratur akan menyebabkan darah tidak mengalir dengan baik apalagi serambi jantung (atrium) akan mengalami pembesaran. Hal-hal itu menyebabkan terbentuknya bekuan darah dalam jantung. “Bekuan darah itu bisa mengalir ke otak dan mneyebabkan penyumbatan. Saat itulah pasien akan mengalami stroke,” terang Daniel.

Gangguan itu, menruut Daniel, lebih sering diderita oleh perempuan. “Risiko stroke pada fibrilasi atrium lebih besar terjadi pada perempuan.Kondisi tubuh perempuan serta hormon-hormon di dalamnya memengaruhi tingkat risikonya.”

Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami gangguan irama jantung harus dilakukan pemeriksaan lengkap di rumah sakit,termasuk pemeriksaan EKG. Bila terlalu parah dan belum membahayakan, umumnya pasien akan diberikan obat-obatan untuk mengendalikan denyut dan Irama jantung. Adapun pasien yang memiliki faktor risiko lebih dari satu sesuai sistem CHADS2 akan diberikan obat pengencer darah untuk mencegah stroke.

“Gangguan ini sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup penderitanya. Mereka, disadari atau tidak, tidak bisa beraktivitas maksimal, “ terang Daniel. (Pro/H-5)

Sunday, March 5, 2017

Dari Hipertensi Berujung ke Stroke Mata

Tekanan darah tinggi termasuk salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat di Tanah Air. Namun, gangguan kesehatan itu kerap dianggap sepele sehingga memicu berbagai penyakit serius, termasuk stroke mata.

Heru Kusmanto (6), misalnya, didiagnosis mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi, yakni 230/100 mmHg, lima tahun lalu. “Padahal, saya tak ada keluhan apa pun,” tuturnya, Kamis (195), di Jakarta.

Namun, ia tak rutin mengontrol tekanan darahnya. Akibatnya, Januari 2015, saat bangun tidur dan hendak buang air kecil pada dini hari, penglihatan kakek dari delapan cucu itu mendadak hitam pekat. Ternyata, ia terserang stroke mata, pembuluh darahnya pecah dan darah membanjiri retina.

Beruntung, penglihatan Heru pulih kembali pulih meski tak lagi sempurna, berkat teknologi laser. Ada bagian-bagian yang hilang dalam setiap pandangannya.

Dokter spesialis mata yang juga Ketua Retina Service Jakarta Eye Center (JEC) Elvioza mengatakan, hipertensi bisa memicu penyumbatan pembuluh darah pada tubuh. Salah satu organ tubuh yang terkena adalah mata yang punya pembuluh darah arteri dan vena.

“Penyumbatan pada arteri, yang mengalirkan darah ke mata, membuat retina kering sehingga terjadi Okulasi Arteri Retina Sentral (CRAO). Pada vena, pembuluh darah bisa pecah sehingga terjadi perdarahan atau disebut Okulasi Vena Retina Sentral (CRVO),” ujarnya.

Stroke mata membuat penderita kehilangan penglihatan secara mendadak tanpa disertai rasa sakit. Elvioza menambahkan, sebutan stroke mata digunakan agar masyarakat mudah mengingat dan waspada terhadap risiko ada sumbatan pada pembuluh darah di mata.

Sekitar 70 persen pasien stroke mata diawali hipertensi. Faktor risiko lain adalah diabetes melitus, hiperkolesterol, kadar lemak darah tinggi, dan kebiasaan merokok. “Zat dalam rokok menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah. Ini berbahaya,” ucap Elvioza.

Faktor usia juga memengaruhi kemungkinan terjadinya stroke mata. Stroke mata umumnya menyerang orang berusia di atas 50 tahun. Selain itu, faktor keturunan berperan. Anak berisiko kena stroke jika orngtua pernah stroke. Intinya, perbaiki gaya hidup.


Penanganan
Sejauh ini, stroke mata bisa diatasi denan obat-obatan, injeksi, laser, dan operasi. Jenis terapi tergantung tingkat keparahan. Pada tahap awal,  stroke mata bias diatasi dengan obat-obatan dan injeksi. Sementara laser dan operasi  dilakukan pada tahap lanjut.

Meski demikian, Elvioza mengingatkan, laser dan operasi untuk mencegah komplikasi, bukan membuat penglihatan kembali normal. “Prinsip penanganannya membatasi  kerusakan dan mencegah komplikasi,” ujar Kepala Divisi Vitreotina Departemen Medik Mata FKUI RSCM Kirana itu.

Komplikasi yang berpotensi terjadi adalah glaukoma atau tingginya tekanan cairan pada bola mata. Ada kemungkinan muncul serangan stroke berikut, termasuk stroke pada otak.

Sejak 2008, obat-obatan anti vascular endothelial growth factor (VEGF) digunakan. Dengan terapi itu, kebocoran akibat pecahnya pembuluh darah bisa ditekan guna mengembalikan penglihatan. Obat-obatan jenis itu juga  mencegah kebutaan permanen.

Pencegahan
Gaya hidup tak sehat turut memicu tingginya tekanan darah yang bisa berujung stroke mata. “Karena itu perlu kontrol tekanan darah dan  kolesterol, berhenti merokok, berolahraga secara teratur, dan mengonsumsi makanan sehat. Intinya, perbaiki gaya hidup,”  ujarnya.

Sejak terkena stroke mata, Heru mulai memperbaiki  gaya hidupnya. Selain jalan kaki setiap hari, memakan banyak  sayuran dan buah-buahan, ia juga mengurangi konsumsi garam dan menghindari makan dengan kadar kolesterol  tinggi.

Kini, tekanan  darah Heru berkisar 135/75 mmHg. Untuk mempertahankan tekanan  darah, ia rutin memeriksa tekanan darahnya  di rumah dan mengonsumsi beberapa obat. Di usia senja, ia tetap beraktivitas sebagai pengajar manajemen rumah sakit di Universitas Respati Indonesia. (C03)


Lama Stroke Nggak Sembuh-sembuh Ibu di Indramayu Nekad Akhiri Hidup Gantung Diri di Rumah Kosong Tetangga

Lampu Hijau, Indramayu
Apapun bentuknya, berputus asa sangatlah dilarang oleh agama. Apalagi sampai bunuh diri. Namun begitulah yang dilakukan Rasinah (45), warga Blok Kebon Kopi, RT 11/03 Desa Lohbener Lor, Jatibarang, Kabupaten Indramayu. Dia nekat gantung diri di rumah kosong milik tetangganya, Aso pada Jumat (10/6). Jasadnya ditemukan warga jam 10 pagi itu.

Petugas Reskrim Polsek Jatibarang yang menerima laporan segera mendatangi lokasi dan melakukan identifikasi pada jasad korban. Petugas juga meminta keterangan ada tiga orang saksi, Inah (20), Imam (30), dan Kadma (45). Taka da tanda kekerasan di tubuh korban. Rasinah murni tewas karena bunuh diri.

Korban ditemukan warga tergantung tali tambang plastik warna putih. Tali yang menjerat lehernya itu diikatkan pada tiang kuda-kuda atap rumah kosong milik Aso itu. Sementara dari keterangan sejumlah saksi, motif pelaku nekat mengakhiri hidupnya lantaran sudah lama menderita sakit stroke.

“Menurut keterangan saksi, korban gantung diri (diduga) karena mengalami sakit  stroke yang sudah lama. Hasil kesepakatan atau persetujuan keluarga, jenazah dikebumikan di TPU Desa Lohbener Lor, Kecamatan Jatibarang,”  terang Kapolres Indramayu, AKP Ramauli Tampubolon.

AKP Ramauli menyebutkan, pihaknya sudah menyarankan agar korban diotopsi, namun pihak keluarga keberatan dan mengaku sudah mengikhlaskan kepergian korban. Sehingga pihak keluarga diminta membuat surat pernyataan penolakan otopsi. (MGN)

Hindarkan Anak dari Stroke Dini

Dislipidemia yang umum dialami anak obesitas bisa menyebabkan stroke dini. Cegah dengan diet, olahraga dan pemberian obat-obatan.

ANAK Gemuk mungkin terlihat lucu dan menggemaskan. Namun, dari sisi kesehatan, kegemukan pada anak sama bahayanya dengan pada orang dewasa.

Pasalnya, kegemukan yang berkembang menjadi obesitas menjadi salah satu faktor penyebab dislipidemia.

Dislipidemia ialah gangguan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, dan kolesterol jahat (low density lipoprotein/LDL) atau penurunan kadaar kolesterol baik (high density lipoprotein/HDL) dalam darah.

Dislipidemia berbahaya bagi anak sebab gangguan itu meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Akibatnya, anak pun dapat terkena stroke dan serangan jantung koroner di usia dini.

“Dislipidemia menyebabkan lapisan tunika intima media dalam pembuluh darah menebal. Pembuluh darah menjadi menyempit, bahkan bisa tersumbat, termasuk pembuluh arteri karotis yang menuju leher. Bila pembuluh darah itu tersumbat, aliran darah ke otak terhambat. Saat itulah anak terkena stroke. Kalau sumbatan terjadi di pembuluh arteri jantung, anak bisa terkena serangan jantung,” ujar dokter spesialis anak RSUP Fatmawati, Lanny Christine Gultom, seusai pengukuhan gelar dokternya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, pekan lalu.

Mengingat risiko berbahaya itu, dislipidemia pada anak obesitas jelas  perlu ditangani. Langkah penanganannya, menurut Lanny, terbilang simpel. Seperti yang ditunjukkan dari hasil penelitian disertasi Lanny, penanganan dislipidemia pada anak  obesitas bisa dilakukan dengan olahraga rutin dan diet.

Dalam penelitian  disertasi berjudul Peran Polimorfisme Apolipoprotein E pada Remaja Obes dengan Dislipidemia yang Mendapat Intervensi Latihan Fisis dan Diet NCEP II itu, Lanny melibatkan 60 anak dan remaja obesitas berusia 10-19 tahun yang mengalami dislipidemia. Para responden itu diminta menerapkan pola diet National Cholesterol Educational Prograam (NCEP) 2. Dalam pola diet itu, sehari-hari mereka makan sesuai kebutuhan total kalori masing-masing.

Hanya, asupan lemak dibatasi sehingga yang diperbolehkan dikonsumsi kurang dari 30% total kalori, konsumsi asam lemak jenuh juga dibatasi hingga kurang dari 7% total kalori, dan konsumsi kolesterol kurang dari 200 miligram per hari. Semua batasan itu diterapkan dalam pemilihan menu makan.

Selain itu, anak dan remaja itu juga diwajibkan berolahraga dengan durasi 60 menit sebanyak 3 kali dalam seminggu. Olahraganya meliputi aktivitas aerobik seperti lari, lompat, atau jalan cepat, serta penguatan tulang dan otot yang disesuaikan dengan kemampuan responden. Diet dan olahraga itu dilakukan rutin selama 28 hari.

Sesudah itu dilakukan pemeriksaan darah. Hasilnya, 85% responden mengalami penurunan kadar kolesterol total dan 66,7% mengalami penurunan kadar koleterol jahat.

“Dari hasil itu terbukti  bahwa dislipidemia bisa diatasi ‘hanya’  dengan intervensi gaya hidup. Tapi memang, diperlukan tingkat disiplin dan kepatuhan yang baik, “ imbuh Lanny yang melalui disertasinya berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cum laude.

Faktor genetik
Dari riset Lanny yang  diketahui bahwa responden yang tidak mengalami perbaikan setelah menjalani diet dan olahraga selama 28 hari itu memiliki perbedaan genetik dengan responden yang berhasil. Mereka yang gagal diketahui memiliki genotip apolipoprotein (apo) E2 dan E4. Adapun responden yang berhasil memiliki genotif apo E3.

“Sebelumnya, anak-anak itu  menjalani pemeriksaan genotip,” kata Lanny.

Ia menjelaskan faktor genetik seperti genotipe apo E yang diturunkan dari orangtua memang kerap menjadi penyebab kegagalan penanganan dislipidemia dengan cara diet dan olahraga. Untuk kasus seperti itu, intervensi gaya hidup perlu ditambah dengan pemberian obat penurun kadar lipid darah.

“Obat itu golongan statin, hanya boleh untuk anak berusia 10 tahun ke atas. Penggunaanya harus dengan resep dokter serta pengawasan ketat karena bisa menimbulkan efek samping yang merugikan, antara lain, merusak keseimbangan hormon anak,” kata Lanny.

Dari hasil penelitian itu Lanny menyarankan agar para orangtua mewaspadai dislipidemia pada anak dan  remaja terutama yang mengalami obesitas. Orangtua dianjurkan untuk memeriksakan anaknya ke dokter agar bisa menjalani pemeriksaan profil lemak darah guna memastikan adanya dislipidemia.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan anak mengalami dislipidemia intervensi perlu segera dilakukan. Intervensi perlu segera dilakukan dengan diet dan olahraga. Jika langkah tersebut tidak berhasil, pemeriksaan genetik diperlukan untuk memastikan jenis genotipe apo E anak. Bila anak memiliki genotipe apo E 2 atau E4, berarti dia memerlukan obat penurun lipid darah selain tetap melanjutkan diet dan olahraga.

“Jangan abaikan obesitas pada anak. Konsultasikan masalah tersebut dengan dokter untuk mencegah risiko yang berbahaya,” saran Lanny. (8/H-1)

eni@mediaindonesia.com

Dari Gusi Turun ke Jantung

Pengidap penyakit gusi lebih banyak yang menderita penyakit jantung dan stroke daripada mereka yang mulutnya sehat.

MULUT sebagai salah satu pintu masuk benda asing ke dalam tubuh amat rentan terpapar kuman dan bakteri. Oleh sebab itu, banyak dokter mengatakan menjaga kesehatan mulut berarti pula mencegah kuman penyakit masuk ke tubuh.

Sayangnya, kebanyakan orang sering salah mengartikan kesehatan mulut dengan hanya menjaga kebersihan gigi. Ketua Ikatan Periodontologi Indonesia (Iperi) Komisariat Jakarta, Hari Sunarto, menyatakan selain karies, masalah kesehatan gigi dan mulut yang banyak diderita masyarakat Indonesia yakni penyakit periodontal atau gusi.

Hari merujuk Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2011 Kementerian Kesehatan yang menunjukkan bahwa penyakit gigi dan mulut, termasuk karies dan penyakit periodontal, tergolong cukup tinggi, yakni diderita sekitar 60% masyarakat.

“Hampir 98% masalah yang dialami masyarakat ialah penyakit jaringan periodontal atau jaringan penyangga. Kebanyakan giginya kuat, tapi jaringan penyangganya rusak. Gusi serta jaringan penyangga gigi sangat rentan terhadap infeksi dan peradangan,” kata Hari pada diskusi terkait kesehatan gigi dan mulut di Jakarta, pekan lalu.

Pada dasarnya, lanjut Hari, gusi serta jaringan penyangga gigi ialah rumah bagi gigi. Gusi yang sehat tentu akan menjaga  kondisi gigi tetap sehat pula.

“Biasanya gejala awal yang kerap muncul terkait permasalahan gusi yaitu perdarahan. Itu terjadi karena terdapat karang gigi pada perbatasan gigi dan gusi. Namun, umumnya orang mengabaikan saja kondisi itu dan menganggapnya tidak akan mengakibatkan pennyakit yang lebih serius papar Hari. 

Padahal lanjut Hari, berbagai permasalahan yang lebih besar dapat muncul bila permasalahan itu disepelekan. Salah satunya penjalaran infeksi hingga ke tulang penyokong gigi. “Bila itu terjadi, dapat mengakibatkan gigi tanggal meski gigi tidak berlubang,” ucap Hari.

Selain itu, kesehatan gusi juga terkait dengan berbagia penyakit lainnya. Seperti penyakit jantung, stroke, bahkan risiko kelahiran bayi prematur pada ibu hamil.

“Bakteri yang mengendap di sekitar gigi bisa masuk melalui celah antara gigi dan gusi yang tidak sehat, lalu terbawa aliran pembuluh darah menuju berbagai organ termasuk jantung,” jelas Hari.

Tidak hanya itu, bakteri itu juga bisa mengiritasi dinding pembuluh darah. Tak mengherankan bila data penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara bakteri mulut dan penyumbatan pembuluh darah yang bisa memicu serangan jantung dan stroke.

“Bukti-bukti menujukkan penderita penyakit gusi lebih sering menderita penyakit jantung dan stroke daripada mereka yang mulutnya sehat. Makin parah penyakit gusinya, makin tinggi risikonya.”

Sikat gigi
Hari memaparkan, merokok, jarang menyikat gigi, dan tidak memeriksakan kesehatan gigi secara teratur merupakan pemicu  terjadinya penyakit  gusi. Penyakit gusi merupakan penyebab utama terjadinya gigi tanggal pada usia dewasa. Hal itu lebih sering terjadi pada gigi bagian depan.

Untuk menangani permasalahan pada gusi, menurut Hari, dibutuhkan penanganan yang tepat ”Langkah  pertama yakni mengetahui kondisi gusi yang sehat dengan  memastikan warna gusi merah muda cerah, berbentuk stabil, tidak berdarah, serta tidak sakit,” jelas Hari.

Sama halnya seperti gigi, gusi juga semestinya turut diperiksa oleh dokter gigi dengan rutin setiap enam bulan sekali. “Namun, upaya pencegahan yang dilakukan sehari-hari tetap lebih penting. Misalnya, menyikat gigi di waktu yang tepat dengan cara yang benar, menggunakan pasta gigi yang dapat mengendalikan pertumbuhan bakteri di mulut, serta membersihkan sela-sela gigi secara maksimal.” (H-3) soraya@mediaindonesia. 

Penyumbatan Pembuluh Darah di Otak. OC Kaligis Jalani Operasi

JAKARTA ( Pos Kota) – Terdakwa dugaan suap hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, Sumatera Utara, Otto Cornelius Kaligis menjalani operasi di RSPAD Gatot Soebroto, Jl. Abdul Rahman Saleh, Jakarta Pusat, Jumat (28/7). Operasi tersebut untuk menyembuhkan penyumbatan pembuluh darah di otak pengacara senior tersebut.

“Iya, penyempitan di kepala,” ungkap pengacara OC Kaligis, Humphrey Djemat, melalui pesan singkat, setelah dikonfirmasi, Jumat (28/7) siang.

Menurut Humphrey, operasi yang dijalankan kliennya itu sudah mendapat izin dari majelis hakim di Pengadilan Tinggi Jakarta. Operasi dipimpin Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Brigadir Jenderal TNI dr. Terawan Agus Putranto.

“Sudah dilakukan operasi di RSPAD dipimpin dokter Terawan tadi pagi pukul 8 dan sekarang masih dalam pemulihan kondisi di RSPAD,” imbuhnya.

Namun, Humphrey belum dapat memastikan apakah kliennya menjalani rawai inap atau bisa langsung kembali mendekam di Rutan Pomdam Jaya, Guntur, Jaksel.

(yuliani/ian) 

Christie Damayanti. DIRANCANG ULANG dengan Stroke

Kehidupannya berubah 180 derajat setelah mendapat cobaan yang baginya adalah ‘nikmat’, berupa stroke di usia 42 tahun. Wanita arsitek yang energik dan penuh semangat ini, tiba-tiba harus bergantung orang-orang di sekitarnya.

Satu tahun sudah Christie bersahabat dengan stroke, penyakit yang biasanya menyapa orang usia lanjut. Apa yang terjadi dengan Christie setelah stroke membuatnya tak bisa bergerak bebas? Inilah curahan hatinya pada Diah Fauziah.

KEHIDUPAN YANG KERAS
Namaku Christie Damayanti. Aku lahir di Jakarta 13 Juni 1969. Papaku seorang insinyur sipil dari Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Eyangku memang dari Jogjakarta. Sama seperti Papa, Mamaku juga Insinyur sipil dari Universitas Gajah Mada, yang mana orangtuanya asal Purwokerto. Masa kecilku sangat bahagia karena orangtuaku membuatku bisa meraih mimpi-mimpiku, termasuk menjadi arsitek. Aku punya dua adik, Bagus Priambodo dan Satriyo Adi. Sekarang, Bagus tinggal di Amerika. Seperti orangtuaku, dia Insinyur sipil dengan dua anak yang sekarang berumur 7 tahun dan 4 tahun. Sementara adikku yang kecil, ekonom, tinggal di Bali dengan keluarganya, mempunyai satu anak berumur 5 tahun.

Aku lulus arsitek di Universitas Tarumanegara, tahun 1992. Dalam waktu empat tahun, aku mendapat predikat arsitek. Setelah itu, aku melanjutkan kuliah bisnis dan bahasa Inggris di Perth, Australia Barat. Pada 3 Desember 1994, aku menikah dengan Roby Antonius, lulusan Universitas Tarumanegara juga, 9 tahun di atasku. Penikahan kami tidak bertahan lama, karena pada 2007, kami memutuskan bercerai setelah dikarunia dua anak, yakni Christoforus Dennis dan Clarensia Michelle. Setelah perceraian itu, dua anakku ikut bersamaku dan tinggal bersama orangtuaku, karena rumah yang dulu kutempati bersama mantan suami, akan  dijual untuk biaya kuliah Dennis di Amerika.

Tahun 1994, aku mulai bekerja di Ciputra Development sampai tahun 1998. Setelah itu, aku bekerja di Multikon Group. Tidak lama, hanya satu tahun saja karena waktu itu aku sedang hamil anak kedua. Dari tahun 1999 hingga 2002, aku tidak bekerja karena Michelle lahir prematur, banyak masalah dan harus menjalani terapi sampai sembuh. Setelah anakku sembuh, aku memutuskan bekerja lagi, bergabung di PPS (Pelita Propertindo Sejahtera) membangun Palazzo. Tahun 2006, aku memutuskan mengundurkan diri dan bergabung dengan Agung Podomoro Group hingga sekarang. Sejak dulu aku selalu bekerja di proyek. Kehidupan yang keras, dan aku menyukainya.

KETIKA TANGAN TAK BISA DIGERAKKAN
Sudah satu tahun aku bersahabat dengan stroke. Benar-benar tidak terasa. Kenapa ya? Apa mungkin karena aku pasrah dan berbahagia. Ya, mungkin karena itu. Mungkin aku memang pasrah dengan segala hal sejak aku stroke. Pada 8 Januari 2010 di San Fransisco, Amerika Serikat, jam tiga pagi saat aku ingin buang air kecil, tiba-tiba aku jatuh. Aku hanya bisa berteriak-teriak setelah sadar bahwa aku tidak bisa  bicara sama sekali, dengan tubuh sebelah kananku sama sekali tidak bisa dirasakan. Ya tuhan, aku stroke. Dengan tubuh sebelah kanan lumpuh, tidak bisa digerakkan.

Hidupku tidak berubah. Bukan tidak berubah, tapi aku berusaha untuk tidak berubah. Aku seorang arsitek, itu tidak berubah. Aku seorang Ibu dengan dua anak ABG (anak baru gede), itu juga tidak berubah. Aku arsitek lapangan, itu memang berubah karena aku belum bisa naik atau memanjat proyek. Aku dosen, itu juga berubah karena sampai saat ini bicaraku belum sempurna.

Sejak pertama stroke di rumah sakit di San Fransisco, aku selalu merasa bahagia. Walau aku sadar stroke berat, aku tetap berbahagia. Setelah aku pulang ke Jakarta dan dirawat di Rumah Sakit Cikini, aku tetap selalu bahagia sampai aku bisa pulang ke rumah, dan lima bulan kemudian aku mulai beraktivitas. Aku mulai bekerja dengan sahabat dan pimpinan yang sangat mengerti, peduli dan  sayang padaku. Puji Tuhan.

Sejak pindah ke Jakarta, dalam sakitku aku menjalani terapi. Mulai terapi gerak, terapi bicara sampai terapi menulis. Aku menjalaninya dengan senang hati, sama sekali tidak merasa panik atau ketakutan. Banyak temanku bertanya,  mengapa aku tidak  takut, mengapa  aku tidak peduli bahwa aku stroke, ah, aku juga tidak mengerti. Itulah mengapa aku tidak pernah bisa menjawab pertanyaan semua temanku.

Aku yakin Tuhan menginginiku kuat menghadapi cobaan ini. Aku selalu duduk di depan mejaku, bemain dengan laptop-ku, merenungi duniaku. Mencoba berbicara dengan hatiku, apa yang Tuhan inginkan dariku? Apa yang Tuhan mau dariku?

PERUBAHAN YANG INDAH
Kegiatanku setiap hari seperti biasa, tetapi tidak penuh. Sejak pindah ke Jakarta, dan mulai terapi sampai setelah Lebaran 2010, aku menjalani terapi setiap hari dari jam 8 pagi -11 siang. Setelah itu aku diantar Papa ke kantor. Oh, ya, setelah aku sakit, Papa yang selalu mengantarku ke mana-mana aku memang tidak bersuami. Setelah Lebaran, aku menjalani terapi seminggu tiga kali yakni Selasa, Kamis dan Sabtu di Rumah Sakit Cikini di Unit Stroke. Itu hanya terapi fisik, terapi bicara dan menulis sudah tidak lagi. Di kantor, biasa saja, seperti dulu tetapi aku belum bisa ke lapangan. Pukul 16.30 WIB, Papa sudah siap di kantor untuk menjemputku pulang. Jam enam sore, aku sudah di rumah.

Sebelum sakit, aku selalu kerja keras, sering sampai pagi di lapangan jika deadline. Aku tidak pernah punya waktu bersama keluarga kecuali hari Minggu, karena yang menjadi fokusku adalah pekerjaan dan pekerjaan. Tetapi sekarang, aku selalu bercanda dengan kedua anakku dan orangtuaku. Hal kecil yang sangat luar biasa indah.

Dulu, aku sering hangout dengan teman-teman. Sekarang aku hanya bisa membaca dan menulis. Dan sekarang, aku masih memakai tangan kiri untuk semua kegiatanku. Sebelum aku sakit seperti sekarang ini, aku selalu sibuk. Aku selalu tidak pernah mengerti, bahwa aku butuh berbicara dengan hati, bahwa aku  butuh merenungi hidupku.

Keadaan stroke-ku dulu memang  benar-benar payah parah karena otak kiriku terendam darah sehingga imbasnya sangat banyak. Otak manusia terdiri dari 47 area (Broadmann Areas) dan aku sakit di area 3,5,7 yang berimbas pada pecahnya pembuluh  darahku. Sekarang aku sudah pulih kira-kira 85%. Aku bisa berjalan walau masih ‘oleng’. Tangan kananku memang sudah bisa diangkat, tetapi belum bisa difungsikan. Aku baru bisa mengangkat sebuah tisu dengan tangan kananku ini.

Jika aku berkeliaran di tempat-tempat yang familiar seperti rumah, rumah sakit atau kantor, aku bisa berjalan normal, tidak takut dan percaya diri. Lain halnya jika aku berjalan di tempat ramai, apalagi di tempat baru, tiba-tiba saja aku tidak bisa mengangkat kaki kananku. Makanya, aku harus selalu dituntun. Beruntung, aku dikelilingi teman yang baik dan mengerti keadaaanku. Mereka selalu bersemangat menggandengku jika keluar kantor untuk makan siang.

KESABARANKU SEDANG DIUJI
Kata dokter, saraf itu berkembang kira-kira hanya 0,01 mm per hari. Coba bayangkan, berapa lama aku harus menunggu semua anggota tubuh bagian kananku sembuh. Ternyata memang aku harus sangat sabar Karena bila aku tidak sabar, kondisiku malah semakin mundur.

Sebelum sakit, aku  merasa kehabisan waktu dengan teman-teman. Seakan-akan, aku membutuhkan waktu lebih dari 24 jam untuk pekerjaanku, dan  seakan-akan cintaku tidak menjadi prioritas dalam hidupku, kedua anakku, orangtuaku dan kekasih hatiku. Aku memang pekerja keras. Tapi ternyata ada yang salah denganku selama ini, karena seharusnya cintaku pada mereka yang mengasihiku harus menjadi prioritas dalam hidupku. Aku yakin, Tuhan ingin aku berkaca atas apa yang telah aku lakukan selama ini. Atas semua perlakuan tidak adilku pada keluarga karena telah menomorsatukan pekerjaan.

Kesabaranku memang diuji. Aku tahu, Tuhan bukan mau mencoba aku, tetapi Tuhan sedang menegurku, merancang ulang diriku. Aku harus menjadi orang yang sabar, karena selama ini aku tidak pernah sabar. Jika ingat kondisiku waktu baru stroke, ternyata Tuhan luar biasa. Tuhan memang menegurku, tetapi Tuhan juga menolongku. Puji Tuhan.

Setelah stroke, aku masuk rumah sakit dua kali. Pertama, karena demam berdarah. Lima hari aku menginap di rumah sakit. Yang kedua karena gejala stroke kedua. Gejala stroke muncul karena aku sedang panik dan mulai tidak fokus. Masalah dengan beberapa sahabat membuatku stres lagi. Waktu itu, aku merasakan tidak enak di seluruh tubuh. Setelah keluar dari rumah sakit, aku benar-benar tidak mau stroke lagi. Itulah mengapa aku harus menjadi orang yang sabar dalam menjalani kehidupan ini.

Fisioterapi Dini Kurangi Kecacatan

JAKARTA (Media) Fisioterapi dini untuk penanganan stroke dapat mengurangi angka kecacatan dan angka kematian akibat penyakit itu. Selama ini Sering kali  terapi baru dilakukan  beberapa minggu setelah serangan stroke.

Kendati melakukan terapi rangsangan otot dan sendi, pasien kerap kali melakukannya di luar prosedur rehabilitasi medis yang dianjurkan rumah sakit.

“Padahal bila terlambat datang ke dokter rehabilitasi  medik, pasien  akan berisiko mengalami keterlambatan pemulihan, pengembalian fungsi tubuh, dan menderita cacat permanen, “ kata dr Gunawan Susanto SpBS pada seminar bertajuk Menyongsong Hari Depan yang Lebih Cerah bagi Penderita Stroke yang diselenggarakan Rumah Sakit (RS) Husada di Jakarta, Sabtu (9/12).

Dokter spesialis bedah saraf itu menjelaskan, kenapa unit perawatan terpadu bagi penderita stroke itu penting. Karena , layanan dokter spesialis dalam unit tersebut  akan menfokuskan  diagnosis medis, diagnosis rehabilitasi, memberi rujukan terapi, menyusun program rehabilitasi, mengawasi, mengevaluasi, dan menindaklanjuti  jalannya rehabilitasi. “Intinya memastikan penderita stroke menjalani tindak lanjut pengobatan yang tepat,” katanya.

Menurut Gunawan,  perkiraan jumlah pasien yang terkena stroke di Indonesia kini mencapai lebih dari 400 ribu orang setiap tahunnya. Penderitanya sebagian besar adalah mereka yang berusia 45 tahun ke atas.

Selain memerlukan biaya penanganan yang tinggi, penyakit stroke bisa mengganggu produktivitas pasien. Angka kematian dan angka kecacatan  permanen akibat stroke juga masih tinggi. Ia menambahkan saat ini angka kematian karena stroke di negara industri menempati  urutan ke-3 setelah penyakit jantung dan kanker.

“Kehadiran unit stroke diharapkan mampu member penanganan optimal dan mencegah kekambuhan,” lanjut Gunawan.

Salah satu terapi yang sejak 1997 mulai diterapkan dalam unit rehabilitasi medis adalah fisioterapi dini. Tujuannya untuk merangsang otak bagian tertentu agar mengambil alih fungsi bagian yang rusak lebih dini.

“Bagian yang rusak pada otak akibat stroke dapat direorganisasi. Jadi fungsinya dapat diambil alih jaringan otak sekitarnya, walaupun tidak bisa semuanya,” katanya.


Karena itu, Gunawan menyarankan, sebelum terkena stroke masyarakat sebaiknya menghindari berbagai kebiasaan yang bisa menjadi pencetus serangan stroke. (QQ/H-2) 

Upaya Penyembuhan pada Stroke Telinga

Kepala terasa begitu pusing berputar saat bangun tidur. Telinga pun tak bisa mendengar. Tidak terdengar apa pun. Semuanya terjadi secara mendadak. Pernahkah Anda mengalaminya? Jika iya, jangan mengabaikannya. Bisa jadi itu serangan sudden deafness hearing loss atau stroke telinga.

Dalam ranah telinga hidung tenggorok (THT), sudden deafness hearing loss merupakan gangguan kesehatan yang sering kali tidak disadari dibandingkan dua kegawatan umum lainnya, yaitu sumbatan jalan napas dan pendarahan.

“Biasanya, keluhan awal yang disampaikan adalah pusing yang hebat. Setelah pusingnya hilang, baru menyadari bahwa telinga tidak bisa mendengar, hanya salah satu atau keduanya. Yang dirasakan, suara yang tidak terdengar secara mendadak atau suara terdengar sangat kecil,” ujar dokter spesialis THT Siloam Hospitals Lippo Village dr Eko Teguh Prianto Sp THT.

Stroke telinga merupakan gangguan THT yang mengenai telinga dalam, yakni rumah siput (koklea). Organ ini berfungsi mengubah sinyal listrik sehingga bisa ditangkap oleh saraf pendengaran. Organ telinga dalam terdiri dari rumah siput dan organ keseimbangan tepi dengan satu pembuluh darah. Jikalau pembuluh darah ini terganggu, maka akan menyebabkan gangguan aliran darah pada salah satu atau kedua organ tersebut sehingga timbul gangguaan pusing berputar dan pendengaran hilang, baik keduanya atau salah satunya. Gangguan airan darah secara tiba-tiba inilah yang akan mengakibatkan organ tersebut kekurangan oksigen segera timbul keluhan.

Menurut dr Eko Teguh Prianto Sp THT, stroke telinga memperlihatkan adanya masalah suplai darah pada bagian rumah siput, organ yang sangat tergantung dengan oksigen. Misalnya saja, pembuluh darah yang tertutup gumpalan. Jika tak mendapat oksigen yang cukup dalam beberapa menit, sel di rumah siput akan bermasalah dan rusak. Bisa dibayangkan bila kondisi ini terus-menerus dibiarkan hingga hitungan hari dan minggu. Terlebih lagi, stroke telinga bersifat permanen. Kerusakan sel sulit diperbaiki seperti semula.

Semua kalangan dapat terserang stroke telinga. Segala usia, termasuk anak-anak , dewasa, dan orang tua. Berdasarkn pengalaman dr Eko Teguh Prianto Sp THT, pasien termuda yang pernah ditangani berusia 8 tahun dan baru disadari orang tua setelah anak berusia 11 tahun. Selama 2015, terdata 8 pasien stroke telinga di Siloam Hospitals Lippo Village.

Jika terjadi pada anak-anak, sering kali terdeteksi lambat karena penanganan yang kurang tepat hingga lambat diketahui dan ditangani. Pemeriksaan fisik tidaklah banyak membantu. Untuk mendeteksinya, diperlukan anamnesis dan tes pendengaran seperti audiometri dengan teknik khusus. Risiko tertinggi terjadi pada orang tua dan pasien yang memiliki riwayat hipertensi, kolesterol, dan kencing manis.

Penyembuhan
Penanganan stroke telinga haruslah segera. Paling baik, dalam hitungan jam atau sampai beberapa hari pertama. Pasien yang telah terdeteksi mengalami gangguan pendengaran sebaiknya dirawat selama beberapa hari untuk mencari tahu penyebabnya dan menjalani serangkaian pemeriksaan pendengaran, diberikan obat injeksi untuk anti-peradangan, antitrombotik, atau antivirus. Langkah-langkah tersebut wajib dilakukan meski hingga sekarang faktor penyebab belum diketahui secara pasti.

Akibat yang ditimbulkan jika pendengaran yang tidak seimbang pada kedua telinga, pada anak-anak bisa memengaruhi perkembangan bahasa, pelajaran sekolah, lokalisasi suara, dan pergaulan. Pada dewasa akan berpengaruh pada lokalisasi suara, kemampuan menangkap suara dalam lingkungan ramai, dan pergaulan.

Terapi
Jika  perawatan dan pemberian obat-obatan selama beberapa waktu tidak memberikan respons yang signifikan terhadap masalah pendengarannya, maka tim medis memberikan suntikan obat anti peradangan langsung ke dalam telinga tengah selama beberapa kali. Ini dilakukan sambil mengevaluasi perkembangan kemampuan mendengarnya secara  serial dengan tes audiometri. Jika hasil terapi obat-obatan telah maksimal dan pasien masih mengeluhkan gangguan pendengaran, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu pendengaran  dan  memperbaiki quality of life pasien.

Pasien yang mengalami penurunan pendengaran level ringan sedang (26-70 desibel) dapat menggunakan alat bantu dengar (hearing aid). Jika penurunan pendengaran mencapai lebih dari decibel dan kerusakan pada kedua telinga, pasien bisa memanfaatkan implant BAHA dan cochlear Implant. Implan koklea  yang awalnya digunakan pada bayi atau anak-anak yang lahir dengan gangguan dengar yang berat dan sangat berat, sekarang sudah dapat diterapkan bagi penderita sudden deafness hearing loss demi meningkatkan quality of life,” lanjut dr Eko Teguh Prianto Sp THT.


Meski penyebab yang belum pasti, bukan berarti tak bisa meminimalkan risiko serangan. Penderita kencing manis, kolesterol, dan darah tinggi haruslah benar-benar mengontrol diri. Jangan sampai plak yang disebabkan penyakit tersebut  semakin menggumpal dan menyumbat pembuluh darah pada bagian dalam telinga. Faktor-faktor pemicu risiko seperti inilah yang wajib dikontrol dan diminimalkan. (GPW)